Mengikat Makna Tribute to: Bapak Hernowo (Dosen, penulis buku dan tokoh yang menginspirasi saya) "Menulis adalah Tugas dan Kewajiban Kita Sebagai Manusia jika ingin Memahami Makna Hidup" Dulu, saat kuliah, saya beruntung bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim, seorang dosen yang luar biasa dan dikenal sebagai “Man of Letter”. Beliau penulis buku “Mengikat Makna” dan beberapa buku best seller lainnya. Saya sendiri, jujur saja, tidak pernah merasa bisa menulis. Bahkan sampai sekarang, saya masih ragu. Menjadi penulis? Tidak pernah terlintas di pikiran saya. Namun, suatu hari, Bapak Hernowo memberikan saya sebuah hadiah yang mengubah pandangan saya. Beliau memberikan buku miliknya kepada saya. Buku tersebut adalah karya yang ditulis olehnya. Ini terjadi setelah beliau meminta kami untuk menulis esai tentang materi perkuliahannya dan mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, di pertemuan berikutnya, Bapak Hernowo menyebutkan nama saya saat mengumumka...
sumber foto: pinterest.com Hidup di zaman sekarang, rasanya ada banyak tuntutan yang datang dari berbagai arah. Salah satunya adalah soal hubungan asmara. Dulu, saya tidak pernah merasa perlu memberi label "jomblo" pada diri sendiri. Bahkan, saya tidak terlalu memahami arti kata itu. Bagi saya, pacaran bukan sesuatu yang wajib, sehingga tidak punya pacar bukanlah hal yang memalukan. Seiring waktu, istilah "jomblo" semakin populer dan bahkan muncul berbagai macam jenisnya, seperti "jomblo mager", "jomblo miskin", "jomblo fi sabilillah" dan lain sebagainya. Rasanya, seolah-olah pacaran menjadi keharusan. Saya bukan anti pacaran, tapi yang saya heran, kenapa aktivitas pacaran seakan-akan menjadi hal yang sangat penting? Kenapa orang-orang yang tidak pacaran seringkali menjadi bahan candaan? Kita tidak pernah tahu perasaan orang lain. Mungkin saja, mereka yang kita canda, sebenarnya merasa terluka. Candaan kita bisa membuat mereka tertekan ...