Langsung ke konten utama

Postingan

Mengikat Makna: Pelajaran dari Seorang Guru

Mengikat Makna Tribute to:  Bapak Hernowo (Dosen, penulis buku dan tokoh yang menginspirasi saya) "Menulis adalah Tugas dan Kewajiban Kita Sebagai Manusia jika ingin Memahami Makna Hidup" Dulu, saat kuliah, saya beruntung bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim, seorang dosen yang luar biasa dan dikenal sebagai “Man of Letter”. Beliau penulis buku “Mengikat Makna” dan beberapa buku best seller lainnya. Saya sendiri, jujur saja, tidak pernah merasa bisa menulis. Bahkan sampai sekarang, saya masih ragu.   Menjadi penulis?   Tidak pernah terlintas di pikiran saya. Namun, suatu hari, Bapak Hernowo memberikan saya sebuah hadiah yang mengubah pandangan saya.   Beliau memberikan buku miliknya kepada saya. Buku tersebut adalah karya yang ditulis olehnya. Ini terjadi setelah beliau meminta kami untuk menulis esai tentang materi perkuliahannya dan mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, di pertemuan berikutnya, Bapak Hernowo menyebutkan nama saya saat mengumumka...
Postingan terbaru

Melepas Stigma Jomblo: Sebuah Refleksi

sumber foto: pinterest.com Hidup di zaman sekarang, rasanya ada banyak tuntutan yang datang dari berbagai arah. Salah satunya adalah soal hubungan asmara. Dulu, saya tidak pernah merasa perlu memberi label "jomblo" pada diri sendiri. Bahkan, saya tidak terlalu memahami arti kata itu. Bagi saya, pacaran bukan sesuatu yang wajib, sehingga tidak punya pacar bukanlah hal yang memalukan. Seiring waktu, istilah "jomblo" semakin populer dan bahkan muncul berbagai macam jenisnya, seperti "jomblo mager", "jomblo miskin", "jomblo fi sabilillah" dan lain sebagainya. Rasanya, seolah-olah pacaran menjadi keharusan. Saya bukan anti pacaran, tapi yang saya heran, kenapa aktivitas pacaran seakan-akan menjadi hal yang sangat penting? Kenapa orang-orang yang tidak pacaran seringkali menjadi bahan candaan? Kita tidak pernah tahu perasaan orang lain. Mungkin saja, mereka yang kita canda, sebenarnya merasa terluka. Candaan kita bisa membuat mereka tertekan ...

Keberhasilan Dakwah Melalui Akhlak: Teladan dari Rasulullah SAW

sumber foto: pinterest.com   Bulan Maulid telah tiba! Mari kita sambut dengan penuh suka cita.. Dalam rangka memperingati hari lahir Nabi kita, marilah kita renungkan kembali akhlak beliau yang mulia, yang menjadi suri tauladan bagi kita semua. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat dan penuh kasih sayang. Ajarannya, yang membentuk dasar Agama Islam, memang seringkali menjadi bahan perdebatan, dan tidak semua orang bisa menerimanya. Tapi, satu hal yang tak terbantahkan: Kebaikan akhlaknya. Kebaikan Nabi Muhammad begitu kuat, bahkan melampaui perbedaan keyakinan. Salah satu bukti kebaikannya adalah julukan “Al-Amin” yang diberikan kepadanya. Artinya “yang dapat dipercaya”. Jauh sebelum menjadi Nabi, Nabi Muhammad sudah dikenal sebagai orang yang jujur dan dapat diandalkan. Dalam Masyarakat Arab kala itu, yang penuh konflik dan tipu daya, kata-kata Nabi Muhammad sangat dihormati. Semua orang percaya padanya. Kisah tentang kejujuran Nabi Muhammad banyak ...

Sebab Kita Diuji: Mengapa Ujian Selalu Menyertai Perjalanan Hidup Kita?

sumber foto: pinterest.com Mengapa hidup ini dipenuhi dengan ujian, sementara kita hanya ingin merasakan kebahagiaan? Pertanyaan ini mungkin pernah bahkan sering terbesit di benak kita, saat dihadapkan pada cobaan yang terasa berat. Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya manusia diciptakan untuk diuji.” (HR. At-Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan bahwa ujian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, sebuah takdir yang tak dapat dihindari. Namun, mengapa? Mengapa kita harus diuji? Kenapa kita tidak luput dari cobaan, baik yang terasa ringan seperti ketinggalan bus sampai ujian yang berat seperti kehilangan orang terkasih? Dalam hal ini, Allah SWT berfirman: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2) Ayat ini mengajarkan kita bahwa Allah SWT menciptakan kehidupan dan kematian sebagai sebuah ujian. Tujuannya adalah untuk melihat siapa di ...

Ibu Rumah Tangga dan Ibu Bekerja: Sama-Sama Indah, Sama-Sama Berpahala

  sumber foto: pinterest.com Haloo, Puan! Maukah kamu menjadi seorang ibu yang mengurus semua pekerjaan rumah tangga termasuk mengasuh anak? Atau, kamu lebih memilih mengurus semua itu dengan tetap menjalani pekerjaan dan menjadi seorang ibu yang bekerja? Seringkali, kita mendengar perdebatan tentang mana yang lebih baik: Menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja.   Ada yang memuji ibu rumah tangga sebagai pahlawan tak kenal lelah, yang mengurus rumah tangga dan anak-anak dengan penuh kasih sayang.   Ada pula yang mengagumi ibu bekerja sebagai wanita tangguh yang berjuang untuk keluarga dan meraih mimpi.   Namun, menurutku, keduanya sama-sama indah dan sama-sama berpahala. Sebagai seorang perempuan, aku merasakan dilema ini dengan sangat nyata.   Waktu kecil, aku pernah bermimpi untuk menjadi ibu rumah tangga yang ideal,   menciptakan rumah yang hangat dan penuh kasih sayang untuk keluarga. Sebagaimana ibu dan kebanyakan perempuan di keluargaku. Namun...

Sifat Iri: Bayangan Gelap Kesombongan

  sumber foto: www.dompetdhuafa.org Apakah kamu pernah merasa terganggu saat temanmu membeli kendaraan atau barang-barang baru? Atau ketika rekan kerjamu tiba-tiba naik pangkat? Hati-hati. Ini asal mulanya sifat iri merasuki diri. Cepat-cepatlah Istighfar. Dalam perjalanan hidup, kita seringkali dihadapkan pada perasaan iri hati. Rasa yang menggambarkan perasaan tidak nyaman saat melihat orang lain sukses, bahagia, atau memiliki sesuatu yang kita inginkan. Bahkan, terkadang, orang yang sudah memiliki sifat iri pada hatinya, tidak membutuhkan alasan lagi untuk iri. Mereka hanya iri, tidak suka dengan segala pencapaian orang lain. Sick. Islam menyebutkan bahwa iri hati atau hasad adalah penyakit hati yang berbahaya dan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kehancuran. Di dalam Al-Qur’an jelas tertulis: “Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang Allah berikan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena Allah memberikan karunia kepada siapa saja ...

Love Your Self: Kebahagiaan Kita, Tanggung Jawab Kita!

  "Tanpa memikul tanggung jawab atas pilihan-pilihan yang  kita ambil, maka kita pun tidak akan pernah merasakan  kehidupan dan kebahagiaan."  dearisahgase.wordpress.com Seringkali yang membuat kita kecewa bukanlah orang lain, bukan sesuatu yang di luar diri kita, melainkan dari dalam diri kita sendiri, yaitu ekspektasi kita. Ekspektasi kita terhadap orang lain, membuat kita berharap bahwa jika ingin bahagia, kita harus bersama mereka. Misalnya, seseorang yang memiliki pasangan, menganggap bahwa ia hanya akan bahagia jika ia bersama pasangannya. Secara tidak langsung, ia pun akhirnya memiliki ketergantungan terhadap pasangannya itu untuk setiap kebahagiaannya. Tidak ada pasangan, tidak bahagia. Atau, ketika pasangannya melakukan sesuatu yang di luar ekspektasi atau harapannya, maka ia pun akan kecewa. Contohnya, beberapa pasangan, entah itu pasangan suami istri atau hanya pacaran, tidak jarang dari mereka yang menganggap bahwa ketika sudah memiliki pasangan, maka...