Mengikat Makna
Tribute to:
"Menulis adalah Tugas dan Kewajiban Kita Sebagai Manusia jika ingin Memahami Makna Hidup"
Dulu,
saat kuliah, saya beruntung bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim, seorang dosen
yang luar biasa dan dikenal sebagai “Man of Letter”. Beliau penulis buku “Mengikat
Makna” dan beberapa buku best seller lainnya.
Saya
sendiri, jujur saja, tidak pernah merasa bisa menulis. Bahkan sampai sekarang,
saya masih ragu. Menjadi penulis? Tidak pernah terlintas di pikiran saya.
Namun,
suatu hari, Bapak Hernowo memberikan saya sebuah hadiah yang mengubah pandangan
saya. Beliau memberikan buku miliknya
kepada saya. Buku tersebut adalah karya yang ditulis olehnya.
Ini
terjadi setelah beliau meminta kami untuk menulis esai tentang materi
perkuliahannya dan mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, di pertemuan
berikutnya, Bapak Hernowo menyebutkan nama saya saat mengumumkan siapa saja
yang menurutnya menulis esai paling bermakna.
Pada momen itu, saya merasa seperti mendapatkan dorongan untuk percaya
bahwa saya bisa menulis. Dan sejak saat itu, saya mulai berani mengeksplorasi
kemampuan menulis saya.
Mungkin
bagi sebagian orang, hadiah itu terlihat kecil dan sederhana, hanya sebuah
buku. Dan, ya, bukan hanya saya yang
menerimanya. Tapi bagi saya pribadi,
hadiah itu punya makna yang sangat dalam dan pengaruhnya masih terasa hingga
sekarang.
Lalu,
bagaimana bisa dikatakan kecil? Bukankah
buku itu berisi ide-ide dan pemikiran Bapak Hernowo yang dirangkum dengan penuh
makna? Bagi saya, mendapatkan buku itu
seperti mendapatkan sebuah penghormatan dari seorang penulis hebat. Apalagi, buku itu diberikan langsung oleh
beliau sendiri. Itu adalah momen yang
sangat berkesan dan menginspirasi saya untuk terus
belajar dan berkembang.
Tugas
pertama kami di kelas Bapak Hernowo adalah menulis esai dengan judul “Membaca
untuk Memahami”. Saat itu, saya masih belajar dan ternyata salah dalam menulis
judul. Huruf pertama setiap kata dalam
judul seharusnya ditulis dengan huruf kapital.
Saya belum mengerti aturan itu.
Namun,
Bapak Hernowo berkata, “Tidak apa-apa, yang penting isi tulisanmu baik-baik
saja.” Beliau juga menambahkan, “Tapi, untuk ke depannya, perhatikan juga
teknik penulisan yang benar dan rapi.” Kata-kata beliau membuat saya sadar
bahwa menulis itu tidak hanya tentang isi, tapi juga tentang bagaimana kita
menyajikannya dengan baik
Bapak
Hernowo mengajarkan menulis dengan cara yang bagi saya unik. Bukan dengan teori yang rumit, bukan dengan
tugas yang menumpuk, melainkan dengan latihan dan praktik terus-menerus. Beliau ingin kami memahami bahwa menulis sama
pentingnya dengan membaca. Kita membaca
buku berulang kali untuk benar-benar memahaminya, bukan? Begitu juga dengan menulis. Kita perlu menulis berulang kali untuk
mengasah kemampuan dan menemukan makna yang ingin kita sampaikan.
Jujur,
awalnya, saya ragu dengan pelajaran Mengikat Makna. Melihat silabusnya, saya
mengira pelajaran ini akan membosankan, mirip pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi
ternyata, saya salah besar! Pelajaran
ini justru menjadi favorit saya di semester itu. Bukan hanya teori, kami juga diajak berlatih
secara rutin, membuat pelajaran ini terasa hidup dan menarik. Setiap pertemuan, saya selalu menantikan apa
yang akan kami pelajari dan bagaimana kami akan
mengasah kemampuan kami.
Bapak
Hernowo adalah dosen yang luar biasa.
Beliau punya cara unik untuk membangkitkan semangat belajar kami. Beliau selalu memberikan inspirasi dan
apresiasi, seolah-olah beliau memahami apa yang kami inginkan dan
butuhkan. Beliau sangat detail dan
totalitas dalam mengajar, tapi tidak terburu-buru.
Beliau
ingin kami menikmati proses belajar, bukan hanya mengejar hasil. Jarang sekali ada dosen yang seperti
beliau. Sebagai muridnya, saya bisa
mengatakan bahwa beliau adalah salah satu dosen terbaik yang pernah saya
temui. Selain itu, beliau juga memiliki
kepribadian yang ramah, sederhana, dan rendah hati.
Mengikat
makna, yang kemudian menjadi tajuk dalam bukunya, merupakan kegiatan
sehari-hari Bapak Hernowo. Bapak Hernowo menjelaskan kepada kita bahwa ia selalu
berusaha untuk “menangkap” makna dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini karena beliau seringkali mendapat
ide-ide menarik secara tiba-tiba, di waktu dan tempat yang tidak terduga-duga.
Oleh
karena itu, beliau selalu membawa buku catatan dan pena kemanapun beliau pergi.
Ini adalah cara beliau “mengingat” dan “menghidupkan” makna yang beliau
temukan. Beliau percaya bahwa makna dalam hidup bisa kita temui di mana saja
dan kapan saja, dan kita harus siap untuk “menghentikannya” dan mencatatnya
sebelum makna itu menghilang begitu saja.
Seperti
pesan dari Rasulullah SAW yang disampaikan Sayyidina Ali, “Ikatlah ilmu dengan
menulis.”. Kata “ikat” di sini bukan berarti mengikat secara fisik, tapi lebih
kepada memahami. Kita harus benar-benar
memahami ilmu yang kita pelajari, bukan hanya sekedar melihat, mendengar, atau
membacanya saja.
Benar
saja, menulis terbukti membantu kita dalam proses memahami. Ilmu bisa kita peroleh dari mana saja, bahkan
dari pengalaman hidup kita sendiri.
Setiap peristiwa dan perjalanan hidup bisa menjadi pelajaran
berharga. Oleh karena itu, para penulis
seringkali membagikan ilmu dan pengalaman mereka melalui tulisan, yang
seringkali itu terlahir dari perjalanan hidup mereka.
Bapak
Hernowo adalah salah satunya. Ia menjadikan dirinya sebagai living example dari
apa-apa yang ditulisnya. Melalui karya-karyanya, ia membagikan konsep sederhana
dalam memahami sebuah makna dalam kehidupan. Sangat ringan untuk dipahami:
Mengikat Makna. Tidak perlu mengerutkan kening atau memutar otak hanya untuk memahami
arti dari kalimat tersebut, bukan?
Bapak
Hernowo tidak hanya mengajar dan berbicara omong kosong. Saya pikir itu yang
membuatnya berbeda. Dosen yang lain mungkin akan berbicara panjang lebar dan hanya berteori, tapi tidak
dengan Bapak Hernowo. Ajaran dan karya-karyanya menggambarkan ketulusan
sehingga rasanya sangat mudah untuk masuk ke dalam kalbu. Saya juga yakin
banyak sekali murid atau pembaca buku-bukunya yang tergugah dan terinspirasi
dengan apa yang ia sampaikan maupun lakukan.
Rasul
pernah mengajarkan, dakwah yang baik adalah dengan melakukannya. Artinya, jika
kamu ingin menyuruh orang lain berbuat kebaikan, maka kamu harus lebih dulu
melakukannya. Itulah yang dilakukan oleh Rasul. Bukan hanya menyampaikan pidato
dengan lantang tapi malah kita sendiri yang tidak melakukannya.
Tampaknya,
ini juga yang menjadi landasan dari ajaran Bapak Hernowo. Ia bukan hanya
mengajar, tapi juga membaca, menulis, dan mengikat makna. Ia melakukan itu
semua, lalu membagikan kisahnya dan menginspirasi murid serta pembaca setianya.
Dalam
dunia filsafat atau lebih khususnya pada kajian filosofi teras, prinsip itu
disebut dengan “Laku Nyata”. Laku nyata dinilai lebih penting daripada sekedar
berbicara dan berteori. Itu terlihat seperti bualan dan pamer. Epictetus
menjelaskan:
“Jangan
menyebut dirimu sendiri ‘seorang filsuf’, atau menggembar-gemborkan teori-teori
yang kamu pelajari. Karena domba tidak memuntahkan lagi rumput yang telah
dimakannya, tetapi domba mencerna rumput tersebut di dalam tubuhnya. Dan ia
kemudian memproduksi susu dan bulu. Begitu juga, janganlah kamu memamerkan apa
yang sudah kamu pelajari, tapi tunjukkanlah tindakan nyata sesudah kamu
mencernanya.”
Jika
dipikir-pikir, sepertinya menulis memang memiliki impact yang sangat
besar. Terutama bagi diri sendiri. Beberapa tokoh pun mengungkapkan bahwa
menulis adalah tugas dan kewajiban kita sebagai manusia jika ingin memahami
makna hidup.
Tentu
saja, selain ilmuwan yang menciptakan berbagai temuan untuk keberlangsungan
hidup ini, para pemikir sejak abad ke abad juga memiliki peran yang luar biasa
dalam membangun sejarah pemikiran manusia. Bayangkan saja apabila mereka tidak
menuliskannya, ilmu yang mereka miliki akan hilang begitu saja, dan kita pun
tidak bisa menyerapnya.
Pernahkah
kalian menonton film "Freedom Writers"? Film ini menceritakan kisah nyata seorang
guru bernama Erin Gruwell yang berjuang melawan rasisme di kelasnya. Di kelas itu, murid-murid kulit hitam dan
putih hidup dalam konflik dan permusuhan.
Erin Gruwell memiliki semangat yang luar biasa untuk mengubah situasi
ini. Film ini menampilkan adegan-adegan
yang penuh kekerasan, perkelahian, dan ketegangan, yang menggambarkan realitas
kehidupan di kelas tersebut.
Banyak
guru yang menyerah menghadapi kelas yang penuh konflik itu. Namun, Erin Gruwell tidak menyerah. Ia memutar otak dan mencari cara untuk
mengubah keadaan. Beliau akhirnya
menemukan metode yang unik: mengajak murid-muridnya bermain game. Ini adalah langkah awal untuk menciptakan
suasana baru yang lebih positif di kelas.
Ia juga menyelipkan pelajaran di dalam permainan tersebut. Tidak berhenti di situ, Erin juga membagikan
buku kosong kepada murid-muridnya dan meminta mereka untuk
menulis buku harian.
Awalnya,
murid-murid terlihat ragu dengan permintaan Erin untuk menulis buku
harian. Namun, Erin meyakinkan mereka
dengan mengatakan bahwa beliau tidak akan membaca buku harian mereka tanpa
izin. Ia memberi pilihan: jika mereka
ingin Erin membaca tulisan mereka, mereka bisa meletakkan buku harian mereka di
loker.
Cara
ini membuat murid-murid merasa lebih percaya dan nyaman. Ketika suasana kelas mulai kondusif, Erin
mulai memperkenalkan kisah-kisah yang mengangkat isu diskriminasi dan
radikalisme, yang membuat murid-murid mulai berpikir dan merenungkan situasi
mereka.
Siapa
sangka metode Erin tersebut, nyatanya perlahan demi perlahan mulai menunjukkan
sisi terang. Ternyata benar bahwa usaha tidak pernah menghianati hasil. Usahanya
untuk mendorong murid-muridnya menulis
dan membangun kesadaran mereka perlahan-lahan mulai menunjukkan hasil yang
positif.
Kelas
yang dulunya penuh dengan ketegangan dan konflik, kini mulai terasa lebih
damai. Murid-murid yang dulu dianggap
tidak punya masa depan, kini mulai menunjukkan perubahan positif. Semua ini berkat bantuan dan dedikasi seorang
guru yang luar biasa, yaitu Erin Gruwell.
Mungkin
sudah terlambat untuk menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Bapak
Hernowo. Dulu, saya sulit untuk bertemu
beliau di luar jam pelajaran. Saya juga
belum sempat meminta tanda tangan beliau di buku yang diberikannya kepada
saya. Lalu, saat memiliki niat
mengunjungi beliau, beberapa waktu kemudian, saya mendengar berita
kepulangannya. Saya terkejut dan
menyesal. Padahal dulu, saat beliau
masih mengajar, saya punya banyak waktu untuk bertemu dengan
beliau di kelas.
Meskipun
sudah terlambat, saya selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak
Hernowo, terutama saat saya menulis.
Beliau selalu menginspirasi saya untuk belajar lebih banyak dan menjadi
penulis yang lebih baik. Saya juga mencoba
menerapkan untuk membawa buku catatan dan pena kemanapun saya pergi, seperti
yang selalu beliau lakukan. Meskipun sekarang ada smartphone, menulis dengan
tangan sendiri terasa memang berbeda, terasa lebih
personal dan bermakna.
Selamat
jalan, Bapak Hernowo. Semoga damai selalu menyelimuti Bapak. Semoga karya-karya
dan ajaran Bapak juga senantiasa tersebar luas dan tidak lekang oleh waktu. Ia terus
diserap, dikenang dan diterapkan oleh siapa saja yang membacanya. Amiin.
.%20Imagine%20a%20single,%20elegant%20thread%20gently%20tying%20together%20two%20.webp)
Komentar
Posting Komentar