![]() |
| www.sonora.id |
Kita
semua bisa mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hal yang diinginkan semua orang.
Dalai Lama menyebutnya sebagai tujuan hidup manusia. Manusia hidup, ya untuk
bahagia. Tentu saja tidak ada orang yang tidak ingin hidup bahagia. Lalu, berbagai cara pun akhirnya kita lakukan untuk
meraih kebahagiaan. Namun, pernahkan kita bertanya-tanya, terkait makna
kebahagiaan itu sendiri? Apakah sebenarnya
yang dimaksud dengan kebahagiaan?
Menurut
sebagian orang, kebahagiaan bersifat subjektif. Oleh karena itu, pemaknaannya bagi
setiap orang mungkin saja berbeda-beda. Katakanlah kebahagiaan yang dimaksud
oleh anak-anak berusia tujuh tahun tentu berbeda dengan kebahagiaan menurut
mereka yang sudah beranjak dewasa. Kebahagiaan seseorang yang memiliki
kepribadian introvert dengan ekstrovert pun biasanya berbeda. Dan lain sebagainya.
Sedangkan
kebahagiaan yang sifatnya objektif, seringkali diukur dengan beberapa acuan
yang berupa aturan tertentu. Misalnya tidak sakit, tidak miskin, seseorang yang
dalam hidupnya mencapai keberhasilan, mendapatkan pasangan yang baik, anak-anak
yang pintar, dan pencapaian-pencapaian lainnya. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), kebahagiaan adalah suatu keadaan yang berupa kesenangan,
ketentraman hidup, emosi yang baik, kemujuran, keberuntungan, dll. Walaupun
pada kenyataanya hal tersebut belum tentu benar-benar menunjukkan bahwa
seseorang bahagia.
Tentu
saja kebahagiaan tidak akan terjadi dengan sendirinya, kita harus berusaha
untuk bisa meraih kebahagiaan. Makanya,
seringkali ia dianggap sebagai suatu pencapaian. Ketika kita mengatakan “semoga
bahagia” pada teman kita, artinya kita mendoakan agar ia bisa menjalani
hidupnya dan mencapai suatu kebahagiaan. Sedangkan sebaliknya, mereka yang
tidak mencapai kebahagiaan, akan mengalami kekecewaan.
Namun,
pada hakikatnya, pernahkah kita meresapi bahwa makna hidup manusia sebenarnya
sudah terdapat di dalam kehidupan itu sendiri? Bahwa dimensi kehidupan manusia bukanlah hanya terkait
kesenangan saja, tapi juga berbagai kesulitan dan ujian di dalamnya. Maka, makna
kehidupan pun juga terdapat di dalam setiap keaadan kita, baik itu menyenangkan
atau tidak menyenangkan.
Lalu,
apakah ketika mendapatkan kesenangan, sudah pasti kita mendapatkan kebahagiaan?
Ini yang sering terjadi, yaitu kita sulit untuk membedakan antara kesenangan
dan kebahagiaan. Padahal, tidak semua kesenangan membawa kita pada kebahagiaan.
Akibatnya, kita hanya terjebak pada kesenangan saja, tanpa mendapatkan
kebahagiaan. Kita sering melihat kehidupan para artis, sosialita, pejabat, atau
orang kaya yang mengalami berbagai masalah seperti stress, depresi, atau mengalami
kecanduan dengan alkohol, obat-obatan terlarang, dan masalah-masalah lainnya.
Padahal, jika kita lihat mereka tentu memiliki kehidupan yang sempurna, dan
menyenangkan. Namun fakta yang sebenarnya, mereka hanya terjebak pada
kesenangan saja.
Kesenangan
bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lama.
Kesenangan hanya sebatas pemenuhan materi (lahir), sedangkan kebahagiaan adalah
pemenuhan lahir dan batin. Suatu kebahagiaan yang dirasakan pada batin inilah
yang kemudian membawa kita pada kedamaian dan merasakan pencapaian hidup yang
sejati. Dan untuk merasakannya, tidak harus berpaku pada hal yang berbau
materi.
Oleh
karena itu, kita harus memahami lebih lanjut mengenai apakah sebenarnya yang
dimaksud dengan kebahagiaan, agar kita bisa menemukan dan mendapatkan
kebahagiaan yang sejati. Sehingga kita bisa menghindari diri kita dari
kesalahan memahami kebahagiaan dengan hal-hal yang sifatnya hanya kesenangan
semata. Untuk itu, disini saya akan mengutip beberapa definisi menurut beberapa
pakar ilmu dan juga tentu saja, para filosof.
Murtadha
Muthahhari dalam bukunya “Fitrah: Menyingkap Hakikat, Potensi, dan Jatidiri
Manusia”, menjelaskan pandangannya bahwa pada dasarnya bahagia merupakan
fitrah yang ada sejak manusia lahir. Artinya, ia adalah sesuatu
yang melekat dalam diri manusia. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa manusia
diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaannya. Oleh karena itu, kita
hanya perlu menggali kebahagiaan itu dan menemukannya dari dalam diri kita.
Tidak perlu mencarinya kemana-mana.
Kebahagiaan
hakiki menurut Sokrates adalah kebahagiaan jiwa (eudaimonia = memiliki daimon
atau jiwa yang baik). Sokrates menjelaskan bahwa jiwa yang ada pada diri kita
bukan hanya yang membuat kita hidup (ruh) dan bernafas, melainkan merupakan
unsur yang terpenting dalam hidup kita. Oleh karena itu, terlalu sempit jika
kita menafsirkan kebahagiaan itu hanya terletak pada kesenangan atau hal-hal
yang bersifat materi saja.
Manusia
harus membuat jiwanya menjadi jiwa yang sebaik mungkin. Bagaimana caranya?
Sokrates menjelaskan untuk mencapai jiwa yang baik, diperlukan kebajikan atau
keutamaan. Sebagaimana yang ia katakan, “Keutamaan adalah pengetahuan”. Memiliki
pengetahuan yang baik, akan membawa kita pada hidup yang baik jika kita
menerapkannya. Artinya, baik atau buruk perbuatan manusia, bisa dilihat dan
ditentukan dari pengetahuannya.
Begitu
juga dengan definisi bahagia dari Plato. Sebagai seorang filosof yang idealis
dan menganggap bahwa alam Ide adalah realitas yang sesungguhnya, tentu saja ia
memandang bahwa kebahagiaan yang merupakan tujuan hidup manusia bukanlah
hal-hal yang hanya akan membawa mereka pada kepuasan nafsu selama hidup di
dunia saja (indrawi), tapi keduanya yakni baik dunia indrawi dan rohani juga
harus terpenuhi.
Sama
halnya yang disampaikan oleh Aristoteles. Ia mengawali definisinya mengenai
kebahagiaan dengan sebuah pertanyaan bagaimana manusia bisa hidup dengan baik.
Hidup yang baik adalah bagaimana kita bisa menjadikan hidup kita menjadi
bermakna. Untuk mencapainya, manusia harus meraih apa yang menjadi tujuan
hidupnya. Menurut Aristoteles, kebahagiaan bukanlah hal-hal yang hanya diukur
dengan perasaan emosional semata, tapi juga harus meliputi segala aspek
kemanusiaan, seperti aspek emosional, moral, sosial, dan rohaninya. Oleh karena
itu, kebahagiaan bisa dicapai dengan menjalani seluruh aspek kehidupan tersebut
dengan baik, karena itulah tujuan hidup manusia.
Adapun
filosof lain yang menjelaskan mengenai makna kebahagiaan yakni Epikuros. Ajaran
Epikuros cukup kental dengan definisi dan makna tentang kebahagiaan hidup
manusia. Hal itu karena Epikuros menjadikan etika sebagai inti dari
pemikirannya. Ia terkenal dengan pandangannya yang senantiasa memberikan
ketenangan dan ingin membebaskan manusia dari seluruh kekhawatiran seperti rasa
takut pada dewa, kematian, dan hal-hal yang mengganggu lainnya. Ia menekankan
bahwa tujuan hidup manusia adalah kenikmatan, tapi kenikmatan disini bukanlah
kenikmatan yang bersifat lahiriah, melainkan bersifat ketenangan. Kebahagiaan
menurut Epikuros sangatlah sederhana. Ketika kita memiliki hati yang tenang,
lalu tubuh kita sehat, jauh dari keresahan, saat itulah kita mendapatkan
kebahagiaan.
Dari
beberapa pandangan para tokoh tersebut, kita bisa mengambil suatu kesimpulan
bahwa kebahagiaan itu sebenarnya bukanlah hal yang berasal dari luar, melainkan
dari dalam diri kita sendiri. Dari dalam benak, pikiran, dan jiwa kita, kita
bisa merasakannya. Ibarat sebuah perangkat, semua sudah tersedia, tinggal kita
yang menghidupkannya.
Masalahnya,
kita sering lupa jika kita memiliki perangkat tersebut di dalam diri kita. Jadi
bagaimana kita bisa menghidupkannya? Contoh sederhananya, kita mungkin sering
kehilangan suatu barang. Misalnya saya, saat mengerjakan sesuatu, saya suka
meletakkan penjepit rambut di kepala, mengikat rambutnya sebagian. Lalu, saat
ingin menggulung rambut, saya mencarinya kemana-mana. Tidak saya temukan,
karena ternyata penjepit rambut itu sudah menancap sedari tadi di rambut saya.
Mungkin kebanyakan dari kita seringkali mengalaminya.
Sama
seperti contoh di atas, dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu mengaitkan
kebahagiaan dengan segala sesuatu yang
datangnya dari luar. Oleh karena itu, sampai saat ini mungkin kita tidak
menemukannya, dan merasa bahwa kita tidak bahagia. Karena kita sibuk mencarinya
kemana-mana. Padahal, yang kita cari ternyata adanya di dalam, bukan di luar. Kita
selalu merasa harus memiliki,
mendapatkan, dan mencapai sesuatu yang besar, barulah kita akan bahagia.
Padahal kenyataannya, hal-hal semacam itu belum tentu mendatangkan kebahagiaan.
Ada
sebagian orang yang mengatakan bahwa kebahagiannya berasal dari tempat yang ia
ingin kunjungi. Seperti berlibur ke pantai, gunung, mall, atau sekedar
nongkrong di kafe bersama teman-teman. Orang-orang kini menyebutnya dengan
sebutan healing. Healing saat ini dirasa sebagai kegiatan wajib demi
mendatangkan perasaan bahagia. Lalu pertanyaannya, setelah healing, apakah kita
akan merasa benar-benar damai? Atau sebaliknya, malah merasa pegal dan lelah,
karena seharian bepergian? Hmm, kalau ini sih saya. Tentu saja itu karena saya
tidak terlalu menyukai keramaian.
Intinya,
kebahagiaan adalah hal yang sangat sederhana. Ia juga bukanlah sesuatu yang
jauh. Kita tidak perlu menggapainya sampai ke ujung langit. Bayangkan saja jika
kita mengaitkan kebahagiaan dengan segala hal atau aktivitas yang besar, lalu
kita mau menunggu sampai kapan? Apakah ketika mendapatkan uang 100 juta,
memiliki rumah mewah, mencapai jabatan direktur, baru kita harus bahagia? Kalau
begitu, artinya, di umur berapa kita baru akan merasakannya?
Tentu
saja ini bukan berarti kita tidak boleh mengejar itu semua sebagai suatu
pencapaian. Pemikiran yang keliru adalah ketika kita membuat hal-hal itu
sebagai syarat untuk merasakan kebahagiaan. Sedangkan tujuan kita hidup adalah
bahagia. Oleh karena itu, saya yakin bahwa kita semua bisa hidup bahagia. Seperti
ketika bermain game, lalu kita diberi misi, pasti kita akan diberi alat atau
potensi untuk mencapai misi tersebut, bukan?
Jadi tenang saja, kebahagiaan ada dalam diri kita. Tidak perlu berusaha keras untuk menggapainya. Cukup gali dan temukan. Semangat!

Komentar
Posting Komentar