Langsung ke konten utama

Memahami Pluralisme Melalui Film My Name Is Khan

 



source image: mubaadalah.id



Serial Bollywood tentu bukan lagi tontonan yang asing bagi masyarakat Indonesia. Dari yang lawas, sampai yang terbaru sepertinya India tidak habis-habisnya menghadirkan film yang menarik, karena ciri khasnya yang tidak hanya menghibur, tapi juga sarat akan makna. Cerita dan kisah yang dibangun dalam film, seringkali merupakan hal-hal yang dekat dengan kita, sehingga tak jarang setelah menontonnya, kita menjadi tergugah dan terinspirasi. Salah satunya adalah film lawas yang berjudul My Name is Khan.

Film My Name is Khan ini tayang perdana pada tahun 2010 dan mendapatkan respon yang sangat ramai dari masyarakat internasional, termasuk Indonesia. Masyarakat kemudian menjadi heboh lantaran film ini yang berani mengangkat isu rasis di Amerika. Film ini pun menjadi istimewa lantaran diputar di tengah kondisi umat Islam yang struggling dengan kompleksitasnya.

Saya berkali-kali dan akan selalu menyukai dialog Rizwan khan yang menjadi sentral dalam film ini, “My name is Khan, and I’m not a terrorist.” Rizwan Khan merupakan seorang penyandang autis yang akhirnya jatuh cinta kepada seorang hair-stylist beragama hindu yang bernama Mandira. Ketika akhirnya mereka berdua menikah, Sameer (yang merupakan anak Mandira), mulai mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari teman-teman di sekolahnya, hanya karena ia memiliki ayah bernama belakang Khan, seorang muslim.

Suatu ketika, secara tidak sengaja Sam terbunuh dalam suatu kecelakaan akibat pertikaian yang dilatarbelakangi oleh persoalan “khan”, karena pada saat itu Amerika sedang digencarkan oleh aksi terorisme yang dilakukan oleh beberapa oknum, yang diduga adalah seorang muslim. Hal ini dikarenakan muslim atau Islam sudah dicap disana sebagai agama penuh kekerasan yang menyukai perang dan jihad.

Oleh sebab itu, keluarga Khan dan para muslim lainnya yang berada di Amerika mendapatkan imbas dari aksi beberapa oknum tersebut. Di sinilah mulai tampak bagaimana budaya rasis di Amerika terhadap warga pendatang disana, terutama bagi mereka yang merupakan seorang muslim.

Tidak ada pihak yang mau bertanggungjawab terhadap kasus yang terjadi pada Sam. Kemarahan yang sudah menyelimuti Mandira pun membuatnya menyalahkan Khan, karena ia berpikir sebab nama “khan” lah Sam terbunuh. Sampai pada suatu hari, ia sudah tidak sanggup dan akhirnya mengusir Khan dan menyuruhnya untuk meminta keadilan, kalau perlu hingga ke Presiden. Di sinilah scene-scene menyedihkan mulai terlihat. Khan yang merasa bersalah pun pergi dan menuruti keinginan Mandira. Ia pun mulai melacak keberadaan presiden dan berjalan dari kota ke kota.

Pelajaran terpenting dan inti dari film ini adalah bagaimana solidaritas sesama manusia terbangun, tanpa melihat adanya latar belakang agama dan ras mereka. Ini terlihat lewat scene saat Khan berada di Georgia dan akrab dengan masyarakat di sana yang mana seluruh warganya merupakan warga non-muslim, lalu beramai-ramai mereka menyanyikan lagu “we shall overcome” di sebuah gereja. Nyess, adem banget. Menyentuh dan penuh makna yang dalam.

Scene ini memberikan sebuah pesan kepada penontonnya bahwa tidak ada perbedaan apapun di antara manusia. Di dalam film pun terdapat sebuah kalimat yang disampaikan oleh Ibu dari Rizwan Khan yang mengatakan bahwa hanya ada dua jenis manusia di dunia, yakni orang baik dan orang jahat. Maka selain hal tersebut, semua manusia adalah sama. Tidak ada yang membedakan mereka selain dari dua hal itu.

Lalu, saat Khan kembali lagi ke Georgia ketika badai menimpa kota itu. Ia teringat oleh keluarga yang sudah baik merawatnya dan ingin membantu keluarga tersebut. Sesampainya di Georgia, Khan menyaksikan keadaan yang sangat miris. Seluruh warga berlindung di sebuah gereja yang semakin buruk keadaannya, dan tidak lama lagi akan runtuh.

Di sini, Khan, yang merupakan seorang autis, muslim, justru hadir sebagai penggerak para warga untuk kemudian bangkit dan tidak menyerah dengan keadaan. Lewat hati murni milik Khan lah, yang pada akhirnya menggerakkan dunia untuk ikut serta membantu warga Georgia. Ah, disini saya teringat penggalan sebuah ayat:

“Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves” (Ar Ra’d: 11).

Film ini sederhana. Akan tetapi secara tegas menekankan bahwa mau berada di dalam situasi dan kondisi apapun, teruslah berbuat baik. Berbuat baik bukan karena ingin mendapatkan sesuatu, atau ingin menunjukkan sesuatu. Berbuat baik karena memang hal tersebut layak dan harus untuk dilakukan.

Dari menonton film ini, kita bisa melihat bagaimana dampak suatu hal yang kita dapatkan apabila kita berbuat sesuatu. Isu pluralisme memang tidak se-enteng kedengarannya. Untuk memahaminya, tidak hanya bisa dijelaskan dalam teori. Duduk di kelas, setelah itu selesai. Tidak. Nyatanya, kita harus benar-benar menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Praktiklah yang benar-benar akan menentukan sikap kita.

Oh iya, Best Moment lainnya dalam film ini, yaitu saat Khan melontarkan statementnya kepada sekelompok jamaah di masjid yang terlihat menyampaikan pidato bernuansa rasis, lalu Khan pun mengatakan: “Jalan Allah itu jalan kasih sayang, bukan kekerasan.” 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengikat Makna: Pelajaran dari Seorang Guru

Mengikat Makna Tribute to:  Bapak Hernowo (Dosen, penulis buku dan tokoh yang menginspirasi saya) "Menulis adalah Tugas dan Kewajiban Kita Sebagai Manusia jika ingin Memahami Makna Hidup" Dulu, saat kuliah, saya beruntung bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim, seorang dosen yang luar biasa dan dikenal sebagai “Man of Letter”. Beliau penulis buku “Mengikat Makna” dan beberapa buku best seller lainnya. Saya sendiri, jujur saja, tidak pernah merasa bisa menulis. Bahkan sampai sekarang, saya masih ragu.   Menjadi penulis?   Tidak pernah terlintas di pikiran saya. Namun, suatu hari, Bapak Hernowo memberikan saya sebuah hadiah yang mengubah pandangan saya.   Beliau memberikan buku miliknya kepada saya. Buku tersebut adalah karya yang ditulis olehnya. Ini terjadi setelah beliau meminta kami untuk menulis esai tentang materi perkuliahannya dan mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, di pertemuan berikutnya, Bapak Hernowo menyebutkan nama saya saat mengumumka...

Bagaimana Cara Agar Kita Bisa Menerima Kesedihan dalam Hidup, dan Bukan Hanya Kesenangan?

  www.istockphoto.com Seperti koin yang punya dua sisi, hidup pun demikian. Adakalanya kita akan menemukan kesenangan, dan adakalanya kita bertemu dengan kesedihan atau kesulitan. Semua manusia mengalaminya, tanpa terkecuali. Hanya saja, mungkin bentuk dari kesenangan dan kesulitan masing-masing individu tentu berbeda, dilihat dari berbagai aspek kehidupan dan pribadi setiap orang. Manusia sering lupa, bahwa sama halnya tidak ada kesenangan yang abadi, maka tidak ada juga penderitaan yang abadi. Sama seperti kita menerima kesenangan dengan tangan terbuka, maka seharusnya begitu juga ketika kita menerima kesedihan. Jika kita bisa menyambut kesenangan, mengapa kita tidak bisa menghargai kesulitan yang ada di hadapan kita? Saya jadi teringat kata-kata bijak   yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer: “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” -Pramoedya Ananta...

Memahami Makna Hidup Bahagia

  www.sonora.id Kita semua bisa mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hal yang diinginkan semua orang. Dalai Lama menyebutnya sebagai tujuan hidup manusia. Manusia hidup, ya untuk bahagia. Tentu saja tidak ada orang yang tidak ingin hidup bahagia. Lalu, berbagai cara pun akhirnya kita lakukan untuk meraih kebahagiaan. Namun, pernahkan kita bertanya-tanya, terkait makna kebahagiaan itu sendiri? Apakah sebenarnya   yang dimaksud dengan kebahagiaan? Menurut sebagian orang, kebahagiaan bersifat subjektif. Oleh karena itu, pemaknaannya bagi setiap orang mungkin saja berbeda-beda. Katakanlah kebahagiaan yang dimaksud oleh anak-anak berusia tujuh tahun tentu berbeda dengan kebahagiaan menurut mereka yang sudah beranjak dewasa. Kebahagiaan seseorang yang memiliki kepribadian introvert dengan ekstrovert pun biasanya berbeda. Dan   lain sebagainya. Sedangkan kebahagiaan yang sifatnya objektif, seringkali diukur dengan beberapa acuan yang berupa aturan tertentu. Misalnya tidak sak...