![]() |
| www.istockphoto.com |
Seperti
koin yang punya dua sisi, hidup pun demikian. Adakalanya kita akan menemukan
kesenangan, dan adakalanya kita bertemu dengan kesedihan atau kesulitan. Semua
manusia mengalaminya, tanpa terkecuali. Hanya saja, mungkin bentuk dari
kesenangan dan kesulitan masing-masing individu tentu berbeda, dilihat dari
berbagai aspek kehidupan dan pribadi setiap orang.
Manusia
sering lupa, bahwa sama halnya tidak ada kesenangan yang abadi, maka tidak ada
juga penderitaan yang abadi. Sama seperti kita menerima kesenangan dengan
tangan terbuka, maka seharusnya begitu juga ketika kita menerima kesedihan.
Jika kita bisa menyambut kesenangan, mengapa kita tidak bisa menghargai
kesulitan yang ada di hadapan kita? Saya jadi teringat kata-kata bijak yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer:
“Kehidupan
ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia
orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”
-Pramoedya
Ananta Toer, Child of All Nations-
Ada
orang-orang yang terlihat hidupnya selalu dalam kesenangan. Apalagi di zaman
sekarang ini, dimana kita bisa berbagi setiap aktivitas kita melalui social
media, dan orang-orang pun bisa menyimpulkan bahwa kehidupan kita selalu
baik-baik saja. Saya pun pernah mengalami keadaan dimana saya terganggu saat
melihat kehidupan orang lain melalui social media. Kenapa? Karena saya berpikir
kehidupan saya tidak seperti mereka, yang saya pikir selalu senang dan bahagia.
Saya
lupa, bahwa apapun yang dibagikan dan segala yang ada di internet itu tidak
sepenuhnya nyata. Bahwa hidup ini tidak selamanya tentang kesenangan saja. Kita
juga seringkali kaget dan heboh saat mendengar berita dari seorang artis yang
melakukan sesuatu tidak seperti biasanya. Misalkan seorang artis yang kita
kenal selalu ramah, dan ceria, lalu pada saat tertentu, mengalami kejadian yang
sebaliknya.
Saya
pun begitu. Ada orang-orang yang ketika melihat saya, mereka berkata: “kalem
banget ya, dia mah ga mungkin bisa marah”, tapi justru sebagian yang lain
berpikir sebaliknya, “dia itu kenapa kok judes sekali ya?”, dll. Kadang jadi
lucu membayangkan bagaimana orang bisa menilai kita hanya dari penglihatannya
saja. Bahkan di saat mereka baru melihat kita. Dan kita pun mungkin pernah
melakukannya pada orang lain juga. Kita lupa memahami bahwa hidup seseorang kadang
senang, tapi ya tidak selamanya kan bisa senang terus?
Kita
sering mendengar bahwa kesenangan dan kesulitan itu adalah satu paket dalam
hidup. Artinya, semua manusia yang hidup, mengalami kesenangan dan juga kesulitan.
Tidak ada manusia yang hanya mengalami kesenangan saja.
Kira-kira
mungkin seperti ini perdebatan yang terjadi jika semua orang mau adu nasib:
“Ah,
dia orang kaya, tidak mungkin pernah sengsara” Kata mereka yang berjuang dalam
kemiskinan. Lalu dibalas lagi oleh si kaya, “Kau beruntung, bisa merasakan
hangatnya keluarga setiap hari”. Ada orang yang belum menikah berkata kepada
yang sudah menikah, “Aku ingin sepertimu, punya pendamping hidup”. Lalu yang
sudah menikah pun berkata kepada yang belum menikah, “Kau enak sekali, bisa
bebas hidup seperti yang kau inginkan”. Singkatnya, manusia selalu
membandingkan dirinya dengan yang lain. Sedangkan kita tahu bahwa kesenangan
bukan hanya soal materi, bukan juga soal apa yang kita dapatkan. Kita juga
tidak akan pernah mengetahui betul tentang keadaan orang lain, bukan? Apakah ia
benar-benar bahagia atau tidak.
Menurut
Stoisisme, salah satu ajaran filsafat dari kaum Stoa, tidak ada peristiwa dalam
hidup ini yang bisa dikatakan baik atau buruk. Semua tergantung interpretasi
atau pikiran kita yang menjadikannya sebagai peristiwa yang baik atau sebaliknya.
“There
is nothing either good or bad, but thinking makes it so”
(Tidak
ada hal yang baik, atau buruk. Pikiran kitalah yang menjadikannya baik atau
buruk).
Di
sisi lain, dengan adanya kesulitan dalam hidup, kita juga bisa membuat diri
kita menjadi lebih kuat, dan kadang hal itu membuat kita menemukan diri kita
yang baru. Contohnya seperti saat kita main game, dan ingin naik level. Atau
saat ujian sekolah, dengan itulah kita bisa naik kelas. Sebab itu kita diuji di
dunia ini. Agar kita bisa terus membangun diri kita menuju yang lebih baik
lagi.
Seneca,
atau bernama lengkap Lucius Annaeus Seneca, salah seorang filsuf Stoik, mengatakan:
“Kamu sungguh sial jika kamu
tidak pernah tertimpa musibah. Karena artinya kamu menjalani hidup tanpa pernah
menghadapi ‘lawan’. Tidak ada yang tahu kemampuanmu sesungguhnya – bahkan
dirimu sendiri tidak.”
Yaa walaupun memang realitanya tidak akan semudah yang kita ucapkan, tapi satu hal yang pasti: Tidak ada kesenangan tanpa kesedihan. Begitu juga, tidak akan ada kesedihan tanpa kesenangan. Semua keadaan kita, senang atau sedih, semua pasti akan berlalu juga. Sekali lagi, senang dan sedih adalah satu paket. Yang jadi masalah adalah, jika kita terus membandingkan diri dan keadaan kita dengan yang lain. Dari sanalah kesengsaraan kita akan bertambah, dan hidup kita terasa lebih berat. Sepertinya lebih baik untuk mulai ambil langkah legowo dengan jalani saja hidup, syukuri keadaan kita saat ini. Saat kita bisa menerima kesenangan dan kebahagiaan, kita pun juga harus belajar untuk bisa menerima kesedihan dan kesulitan.

Komentar
Posting Komentar