![]() |
| sumber foto: pinterest.com |
Hidup di zaman sekarang, rasanya ada banyak tuntutan yang datang dari berbagai arah. Salah satunya adalah soal hubungan asmara. Dulu, saya tidak pernah merasa perlu memberi label "jomblo" pada diri sendiri. Bahkan, saya tidak terlalu memahami arti kata itu. Bagi saya, pacaran bukan sesuatu yang wajib, sehingga tidak punya pacar bukanlah hal yang memalukan.
Seiring waktu, istilah "jomblo" semakin populer dan bahkan muncul berbagai macam jenisnya, seperti "jomblo mager", "jomblo miskin", "jomblo fi sabilillah" dan lain sebagainya. Rasanya, seolah-olah pacaran menjadi keharusan.
Saya bukan anti pacaran, tapi yang saya heran, kenapa aktivitas pacaran seakan-akan menjadi hal yang sangat penting? Kenapa orang-orang yang tidak pacaran seringkali menjadi bahan candaan?
Kita tidak pernah tahu perasaan orang lain. Mungkin saja, mereka yang kita canda, sebenarnya merasa terluka. Candaan kita bisa membuat mereka tertekan dan berusaha keras mencari pasangan agar tidak lagi disebut "jomblo".
Situasi ini mirip dengan pengangguran. Orang yang menganggur pasti ingin mendapatkan pekerjaan agar tidak lagi merasa tidak berdaya. Bekerja adalah sebuah kebutuhan.
Namun, "jomblo" berbeda. Orang yang tidak pacaran seringkali merasa terbebani oleh label ini. Mereka merasa tertekan karena gengsi, candaan, dan anggapan masyarakat yang menganggap bahwa memiliki pasangan adalah hal yang normal.
Yang lebih miris, orang yang memilih untuk tidak pacaran seringkali dicap sebagai penyuka sesama jenis. Artis seperti Afgan, Rossa, dan Tulus, yang belum menikah, seringkali digosipkan memiliki pasangan sesama jenis.
Saya sendiri tidak terlalu memahami istilah "jomblo". Bagi saya, seseorang hanya memiliki dua status: sudah menikah atau belum menikah. Dulu, saya tidak pernah merasa perlu memberi label "jomblo" pada diri sendiri.
Ingat, pacaran adalah pilihan dan hak setiap orang, selama tidak merugikan orang lain. Punya pacar bukanlah sebuah pencapaian yang perlu dibanggakan. Catet!

Komentar
Posting Komentar