Langsung ke konten utama

Sifat Iri: Bayangan Gelap Kesombongan

 

sumber foto: www.dompetdhuafa.org

Apakah kamu pernah merasa terganggu saat temanmu membeli kendaraan atau barang-barang baru? Atau ketika rekan kerjamu tiba-tiba naik pangkat? Hati-hati. Ini asal mulanya sifat iri merasuki diri. Cepat-cepatlah Istighfar.

Dalam perjalanan hidup, kita seringkali dihadapkan pada perasaan iri hati. Rasa yang menggambarkan perasaan tidak nyaman saat melihat orang lain sukses, bahagia, atau memiliki sesuatu yang kita inginkan. Bahkan, terkadang, orang yang sudah memiliki sifat iri pada hatinya, tidak membutuhkan alasan lagi untuk iri. Mereka hanya iri, tidak suka dengan segala pencapaian orang lain. Sick.

Islam menyebutkan bahwa iri hati atau hasad adalah penyakit hati yang berbahaya dan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kehancuran. Di dalam Al-Qur’an jelas tertulis:

“Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang Allah berikan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang dikehendak-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya.” (QS. An-Nisa: 32).

Ayat ini menegaskan bahwa rezeki dan nikmat yang Allah berikan kepada setiap orang berbeda-beda, dan kita tidak boleh iri terhadap apa yang dimiliki orang lain.

Kemudian, Rasulullah SAW juga mengingatkan kepada umatnya, "Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu adalah qalbu (hati).

“Tapi bukankah perasaan iri itu manusiawi?”

“Aku sudah bekerja keras, mengapa dia yang lebih beruntung?”

“bukannya aku iri, tapi ini seharusnya tidak adil buatku”

Hmm.. Sifat iri itu manusiawi? Benarkah?

Sebenarnya, jika kita baca sejarah, yang pertama kali memendam rasa iri itu siapa, sih? Bukannya iblis, ya? Hanya saja, iblis sudah membuat kesepakatan untuk menjerumuskan manusia. Di sisi lain, manusia juga memang memiliki hawa nafsu. Yang tentunya, bisa kita kendalikan. Entahlah. Tapi, apapun itu, poinnya adalah: Apakah itu lantas membuat kita boleh menormalisasi sifat iri tersebut? Nah, di sini yang perlu kita perhatikan.

Kalau kita mau melihat segala hal yang ‘katanya’ manusiawi ini sebagai sesuatu yang ‘dibolehkan’, kemudian akan timbul pertanyaan:

“Lalu apa gunanya agama?”,

” Apa sih sebenarnya peran agama?”

Misalnya, merasakan cinta itu wajar, tapi apakah berbuat zina itu boleh? Rasa lapar dan kebutuhan makan juga manusiawi, tapi kita semua tahu ada cara untuk memenuhinya, kan?

Penting sekali untuk punya batasan yang jelas antara hal-hal manusiawi dan aturan yang ada dalam agama. Kalau semua hal mau dinormalisasi tanpa mengindahkan aturan-aturan itu, apakah kita masih perlu hidup dengan agama dan pedoman dalam hidup?

Mengapa agama melarang sifat iri?

Sebagaimana yang kita tahu, aturan dalam agama tidak mungkin tidak berlandaskan pada manfaat bagi manusia. Nyatanya, iri hati tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga dapat merusak hubungan dengan orang lain. Membuat kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki, tidak tenang, dan selalu gelisah terhadap pencapaian atau apa-apa yang dimiliki orang lain. Tentu saja perasaan seperti itu bisa sangat menyiksa, bukan?

Jika ditelusuri, rasa iri, sangat dekat dengan rasa sombong. Atau bisa juga, rasa iri melahirkan kesombongan. Pokoknya, keduanya adalah sifat buruk yang saling terkait. Perasaan tidak suka melihat orang lain sukses/bahagia, kerap seringkali datang dari pikiran bahwa dirinya-lah yang lebih pantas mendapatkan semua itu. Merasa lebih mulia, lebih tinggi derajatnya. Naudzubillah.

Contohnya bisa kita lihat dari kisah penciptaan Nabi Adam dan jin. Ketika Allah SWT menciptakan Nabi Adam, Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Semua malaikat taat, kecuali jin. Jin merasa iri dan sombong karena merasa lebih mulia daripada Adam. Ia menolak untuk bersujud, dan akhirnya terkutuk menjadi jin yang terusir dari surga.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kamu kepada Adam,” maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri dan dia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34).

Kisah tersebut menunjukkan bahwa iri hati dapat muncul dari rasa sombong dan merasa lebih mulia daripada orang lain. Jin iri kepada Adam karena Adam diciptakan dari tanah, sedangkan ia dari api. Ia merasa lebih mulia, padahal Allah SWT telah memberikan karunia kepada Adam dengan menjadikannya khalifah di bumi.

Jin terjebak dalam lingkaran setan iri hati. Ia tidak pernah merasa cukup, tidak merasa bahagia, karena ia selalu fokus pada kelebihan yang lainnya, yakni Adam. Ia pun menganggap apa-apa yang dimilikinya tidak berarti. Matanya telah dibutakan sehingga tidak melihat bahwa Allah SWT telah memberikan karunia yang berbeda kepada setiap makhluk-Nya.

Lalu, di samping semua itu, berani sekali kita yang sangat kecil ini kemudian berkata bahwa semua hal yang terjadi itu tidak adil. Apakah itu artinya Allah SWT tidak adil? Karena semua yang terjadi di hidup kita itu adalah kehendak Allah SWT. Saya tidak ingin berdebat soal ini, karena kita semua sudah tahu bahwa Allah SWT Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui. Titik. Kita saja yang tidak atau belum mampu memahami segalanya.

Intinya, kita sudah mempelajari bahwa sifat iri hati adalah penyakit hati yang berbahaya. Dan, kita perlu melawannya dengan belajar untuk bersyukur atas apa yang Allah SWT berikan kepada kita, menghargai usaha orang lain, dan fokus pada pengembangan diri kita sendiri. Tentu tidak mudah, bagaimanapun kita adalah manusia dan tempatnya khilaf. Oleh karena itu, kita harus terus mengingatkan diri kita sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita.

Selalu ingat bahwa Allah SWT senantiasa memberikan rezeki dan nikmat kepada setiap orang sesuai dengan kehendak-Nya. Kita tidak boleh iri terhadap apa yang dimiliki orang lain, karena Allah SWT pasti memiliki rencana terbaik bagi setiap hamba-Nya. Wallahu A’lam. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengikat Makna: Pelajaran dari Seorang Guru

Mengikat Makna Tribute to:  Bapak Hernowo (Dosen, penulis buku dan tokoh yang menginspirasi saya) "Menulis adalah Tugas dan Kewajiban Kita Sebagai Manusia jika ingin Memahami Makna Hidup" Dulu, saat kuliah, saya beruntung bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim, seorang dosen yang luar biasa dan dikenal sebagai “Man of Letter”. Beliau penulis buku “Mengikat Makna” dan beberapa buku best seller lainnya. Saya sendiri, jujur saja, tidak pernah merasa bisa menulis. Bahkan sampai sekarang, saya masih ragu.   Menjadi penulis?   Tidak pernah terlintas di pikiran saya. Namun, suatu hari, Bapak Hernowo memberikan saya sebuah hadiah yang mengubah pandangan saya.   Beliau memberikan buku miliknya kepada saya. Buku tersebut adalah karya yang ditulis olehnya. Ini terjadi setelah beliau meminta kami untuk menulis esai tentang materi perkuliahannya dan mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, di pertemuan berikutnya, Bapak Hernowo menyebutkan nama saya saat mengumumka...

Bagaimana Cara Agar Kita Bisa Menerima Kesedihan dalam Hidup, dan Bukan Hanya Kesenangan?

  www.istockphoto.com Seperti koin yang punya dua sisi, hidup pun demikian. Adakalanya kita akan menemukan kesenangan, dan adakalanya kita bertemu dengan kesedihan atau kesulitan. Semua manusia mengalaminya, tanpa terkecuali. Hanya saja, mungkin bentuk dari kesenangan dan kesulitan masing-masing individu tentu berbeda, dilihat dari berbagai aspek kehidupan dan pribadi setiap orang. Manusia sering lupa, bahwa sama halnya tidak ada kesenangan yang abadi, maka tidak ada juga penderitaan yang abadi. Sama seperti kita menerima kesenangan dengan tangan terbuka, maka seharusnya begitu juga ketika kita menerima kesedihan. Jika kita bisa menyambut kesenangan, mengapa kita tidak bisa menghargai kesulitan yang ada di hadapan kita? Saya jadi teringat kata-kata bijak   yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer: “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” -Pramoedya Ananta...

Memahami Makna Hidup Bahagia

  www.sonora.id Kita semua bisa mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hal yang diinginkan semua orang. Dalai Lama menyebutnya sebagai tujuan hidup manusia. Manusia hidup, ya untuk bahagia. Tentu saja tidak ada orang yang tidak ingin hidup bahagia. Lalu, berbagai cara pun akhirnya kita lakukan untuk meraih kebahagiaan. Namun, pernahkan kita bertanya-tanya, terkait makna kebahagiaan itu sendiri? Apakah sebenarnya   yang dimaksud dengan kebahagiaan? Menurut sebagian orang, kebahagiaan bersifat subjektif. Oleh karena itu, pemaknaannya bagi setiap orang mungkin saja berbeda-beda. Katakanlah kebahagiaan yang dimaksud oleh anak-anak berusia tujuh tahun tentu berbeda dengan kebahagiaan menurut mereka yang sudah beranjak dewasa. Kebahagiaan seseorang yang memiliki kepribadian introvert dengan ekstrovert pun biasanya berbeda. Dan   lain sebagainya. Sedangkan kebahagiaan yang sifatnya objektif, seringkali diukur dengan beberapa acuan yang berupa aturan tertentu. Misalnya tidak sak...