Apakah
kamu pernah merasa terganggu saat temanmu membeli kendaraan atau barang-barang
baru? Atau ketika rekan kerjamu tiba-tiba naik pangkat? Hati-hati. Ini asal
mulanya sifat iri merasuki diri. Cepat-cepatlah Istighfar.
Dalam
perjalanan hidup, kita seringkali dihadapkan pada perasaan iri hati. Rasa yang
menggambarkan perasaan tidak nyaman saat melihat orang lain sukses, bahagia,
atau memiliki sesuatu yang kita inginkan. Bahkan, terkadang, orang yang sudah
memiliki sifat iri pada hatinya, tidak membutuhkan alasan lagi untuk iri.
Mereka hanya iri, tidak suka dengan segala pencapaian orang lain. Sick.
Islam
menyebutkan bahwa iri hati atau hasad adalah penyakit hati yang berbahaya dan
dapat menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kehancuran. Di dalam Al-Qur’an
jelas tertulis:
“Dan
janganlah kamu iri terhadap apa yang Allah berikan kepada sebagian kamu lebih
banyak dari sebagian yang lain. Karena Allah memberikan karunia kepada siapa
saja yang dikehendak-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya.” (QS. An-Nisa:
32).
Ayat
ini menegaskan bahwa rezeki dan nikmat yang Allah berikan kepada setiap orang
berbeda-beda, dan kita tidak boleh iri terhadap apa yang dimiliki orang lain.
Kemudian,
Rasulullah SAW juga mengingatkan kepada umatnya, "Ingatlah, dalam tubuh
manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan
baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh
tubuhnya. Dan segumpal daging itu adalah qalbu (hati).
“Tapi
bukankah perasaan iri itu manusiawi?”
“Aku
sudah bekerja keras, mengapa dia yang lebih beruntung?”
“bukannya
aku iri, tapi ini seharusnya tidak adil buatku”
Hmm..
Sifat iri itu manusiawi? Benarkah?
Sebenarnya,
jika kita baca sejarah, yang pertama kali memendam rasa iri itu siapa, sih?
Bukannya iblis, ya? Hanya saja, iblis sudah membuat kesepakatan untuk menjerumuskan
manusia. Di sisi lain, manusia juga memang memiliki hawa nafsu. Yang tentunya,
bisa kita kendalikan. Entahlah. Tapi, apapun itu, poinnya adalah: Apakah itu
lantas membuat kita boleh menormalisasi sifat iri tersebut? Nah, di sini yang
perlu kita perhatikan.
Kalau
kita mau melihat segala hal yang ‘katanya’ manusiawi ini sebagai sesuatu yang
‘dibolehkan’, kemudian akan timbul pertanyaan:
“Lalu
apa gunanya agama?”,
”
Apa sih sebenarnya peran agama?”
Misalnya,
merasakan cinta itu wajar, tapi apakah berbuat zina itu boleh? Rasa lapar dan
kebutuhan makan juga manusiawi, tapi kita semua tahu ada cara untuk
memenuhinya, kan?
Penting
sekali untuk punya batasan yang jelas antara hal-hal manusiawi dan aturan yang
ada dalam agama. Kalau semua hal mau dinormalisasi tanpa mengindahkan
aturan-aturan itu, apakah kita masih perlu hidup dengan agama dan pedoman dalam
hidup?
Mengapa
agama melarang sifat iri?
Sebagaimana
yang kita tahu, aturan dalam agama tidak mungkin tidak berlandaskan pada
manfaat bagi manusia. Nyatanya, iri hati tidak hanya merugikan diri sendiri,
tetapi juga dapat merusak hubungan dengan orang lain. Membuat kita tidak pernah
merasa puas dengan apa yang kita miliki, tidak tenang, dan selalu gelisah
terhadap pencapaian atau apa-apa yang dimiliki orang lain. Tentu saja perasaan
seperti itu bisa sangat menyiksa, bukan?
Jika
ditelusuri, rasa iri, sangat dekat dengan rasa sombong. Atau bisa juga, rasa
iri melahirkan kesombongan. Pokoknya, keduanya adalah sifat buruk yang saling
terkait. Perasaan tidak suka melihat orang lain sukses/bahagia, kerap
seringkali datang dari pikiran bahwa dirinya-lah yang lebih pantas mendapatkan
semua itu. Merasa lebih mulia, lebih tinggi derajatnya. Naudzubillah.
Contohnya
bisa kita lihat dari kisah penciptaan Nabi Adam dan jin. Ketika Allah SWT
menciptakan Nabi Adam, Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud
kepada Adam. Semua malaikat taat, kecuali jin. Jin merasa iri dan sombong
karena merasa lebih mulia daripada Adam. Ia menolak untuk bersujud, dan
akhirnya terkutuk menjadi jin yang terusir dari surga.
“Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kamu kepada
Adam,” maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri
dan dia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34).
Kisah
tersebut menunjukkan bahwa iri hati dapat muncul dari rasa sombong dan merasa
lebih mulia daripada orang lain. Jin iri kepada Adam karena Adam diciptakan
dari tanah, sedangkan ia dari api. Ia merasa lebih mulia, padahal Allah SWT
telah memberikan karunia kepada Adam dengan menjadikannya khalifah di bumi.
Jin
terjebak dalam lingkaran setan iri hati. Ia tidak pernah merasa cukup, tidak
merasa bahagia, karena ia selalu fokus pada kelebihan yang lainnya, yakni Adam.
Ia pun menganggap apa-apa yang dimilikinya tidak berarti. Matanya telah
dibutakan sehingga tidak melihat bahwa Allah SWT telah memberikan karunia yang
berbeda kepada setiap makhluk-Nya.
Lalu,
di samping semua itu, berani sekali kita yang sangat kecil ini kemudian berkata
bahwa semua hal yang terjadi itu tidak adil. Apakah itu artinya Allah SWT tidak
adil? Karena semua yang terjadi di hidup kita itu adalah kehendak Allah SWT. Saya
tidak ingin berdebat soal ini, karena kita semua sudah tahu bahwa Allah SWT
Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui. Titik. Kita saja yang tidak
atau belum mampu memahami segalanya.
Intinya,
kita sudah mempelajari bahwa sifat iri hati adalah penyakit hati yang
berbahaya. Dan, kita perlu melawannya dengan belajar untuk bersyukur atas apa
yang Allah SWT berikan kepada kita, menghargai usaha orang lain, dan fokus pada
pengembangan diri kita sendiri. Tentu tidak mudah, bagaimanapun kita adalah
manusia dan tempatnya khilaf. Oleh karena itu, kita harus terus mengingatkan
diri kita sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita.
Selalu
ingat bahwa Allah SWT senantiasa memberikan rezeki dan nikmat kepada setiap
orang sesuai dengan kehendak-Nya. Kita tidak boleh iri terhadap apa yang
dimiliki orang lain, karena Allah SWT pasti memiliki rencana terbaik bagi
setiap hamba-Nya. Wallahu A’lam.

Komentar
Posting Komentar