Langsung ke konten utama

Love Your Self: Kebahagiaan Kita, Tanggung Jawab Kita!

 

"Tanpa memikul tanggung jawab atas pilihan-pilihan yang

 kita ambil, maka kita pun tidak akan pernah merasakan

 kehidupan dan kebahagiaan." 

dearisahgase.wordpress.com

Seringkali yang membuat kita kecewa bukanlah orang lain, bukan sesuatu yang di luar diri kita, melainkan dari dalam diri kita sendiri, yaitu ekspektasi kita. Ekspektasi kita terhadap orang lain, membuat kita berharap bahwa jika ingin bahagia, kita harus bersama mereka. Misalnya, seseorang yang memiliki pasangan, menganggap bahwa ia hanya akan bahagia jika ia bersama pasangannya. Secara tidak langsung, ia pun akhirnya memiliki ketergantungan terhadap pasangannya itu untuk setiap kebahagiaannya. Tidak ada pasangan, tidak bahagia. Atau, ketika pasangannya melakukan sesuatu yang di luar ekspektasi atau harapannya, maka ia pun akan kecewa.

Contohnya, beberapa pasangan, entah itu pasangan suami istri atau hanya pacaran, tidak jarang dari mereka yang menganggap bahwa ketika sudah memiliki pasangan, maka pasangan mereka harus bisa membuatnya bahagia. Tidak cukup hanya disitu, tapi segala sesuatu harus disandarkan pada pasangan mereka, baik laki-laki atau perempuan. Misal, sang istri seringkali berharap agar suaminya selalu menjemput dan mengantarnya pergi kemanapun. Sang suami juga sama, ia berekspektasi bahwa perempuannya bisa melakukan semua pekerjaan rumah, atau apapun yang biasanya disandarkan pada perempuan.

Kita seringkali secara tidak sadar, melakukan hal seperti itu. Akibatnya, hubungan yang tersisa hanyalah sebatas kegiatan saling menuntut satu sama lain. Begitulah dewasa ini orang-orang memulai sebuah relasi. Itulah mengapa ada pepatah yang mengatakan bahwa relasi dengan orang lain bagaikan pedang bermata dua. Ia tidak hanya mendatangkan kebahagiaan, tapi juga penderitaan. Dan ini berlaku untuk semua bentuk relasi.

Tapi tahu faktanya? Secara hakikat, kebahagiaan sepenuhnya datang dari diri kita. Ia bukan datang dari orang tua kita, dan bukan juga dari pasangan, sahabat atau teman-teman kita. Menunggu orang lain untuk memberikan kita kebahagiaan menjadi hal yang aneh dan tidak masuk akal. Dan hal itulah justru yang akan menjauhkan diri kita dari rasa bahagia. Ya karena ekspektasi itu tadi, harapan akan orang lain yang bertanggung jawab terhadap kebahagiaan kita. Saat ekspektasi tersebut  tidak terpenuhi, maka kita akan merasa kecewa.

Kebahagiaan adalah pilihan kita. Kita bisa memilih untuk mendefinisikan kebahagiaan kita sendiri. Keep in mind: Kebahagiaan kita, tanggung jawab kita. Tentu saja itu karena tidak ada yang mengenal dan memahami diri kita sebaik diri kita sendiri. Apakah kalian setuju? Jika ada yang tidak setuju dan merasa orang lain lebih mengenal kita lebih baik daripada diri kita, itu tandanya kita sedang terjebak oleh pikiran kita sendiri. Sebabnya antara lain adalah rasa ketakutan kita. Kita takut untuk mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya. Oleh karena itu, kita lebih percaya pada orang lain dan menyembunyikan diri.

Kita harus bisa membebaskan diri kita. Jika sebelumnya kita berpandangan seperti itu, dan kita selalu merasa bahwa hanya sesuatu yang di luar diri kita yang akan dan bisa membuat kita bahagia, maka kita harus bisa terlepas dari itu semua.

Diri kita tersusun oleh banyak hal dan juga peristiwa dalam hidup. Terkadang, kita memang tidak selalu mendapati hal-hal yang menyenangkan, melainkan kebalikannya. Itu semua mungkin membuat kita memiliki bayang-bayang yang menakutkan terhadap diri sendiri. Kekhawatiran bermunculan, tak jarang kita pun menyerang dan membenci diri sendiri. Padahal, bahkan semua peristiwa dalam hidup itu sudah membentuk diri kita hingga sekarang ini, bukan? Berterimakasihlah pada dirimu.

Kalau diingat-ingat, setiap kita berkeliling di pusat perbelanjaan, dan hendak membeli suatu barang, kita seringkali meminta pendapat dari teman kita. Kita juga tak jarang meminta saran dari orang lain saat dihadapkan dengan keputusan yang sulit. Lalu, kita akan percaya dan langsung menuruti mereka karena berpikir pilihan mereka akan lebih baik daripada diri kita yang membuat pilihan tersebut.

Itu hanya sebuah contoh peristiwa sederhana yang sering terjadi. Tentu banyak sekali contoh-contoh yang lain. Pertanyaannya? Mengapa kita begitu percaya pada orang lain, dan bukan pada diri sendiri? Padahal, siapakah yang paling sering menghabiskan waktu bersama kita selain diri kita sendiri? Siapakah yang merasakan semua masa-masa sulit yang dihadapi oleh diri kita kalau bukan diri kita sendiri? Tapi mengapa sangat sulit untuk memahami diri?

Mari kita akui, mencintai diri sendiri memang lebih sulit daripada mencintai orang lain. Padahal, kita memiliki begitu banyak alasan untuk mencintai diri. Kita juga tidak perlu susah payah, bukan? Bahkan, tidak perlu izin untuk melakukannya. Kita seringkali mencintai orang lain tanpa alasan, tanpa syarat, tanpa pamrih, dsb. Tapi bagaimana dengan diri kita? Mengapa kita begitu membangun tembok dan standar yang sangat besar untuk bisa mencintainya? Lalu, siapa lagi yang akan mencintai diri kita kalau bukan diri kita sendiri?

Lagipula, bagaimana kita bisa mencintai orang lain jika belum mencintai diri sendiri? Kita pasti belum memiliki pemahaman sempurna mengenai hakikat mencintai. Cintai dirimu terlebih dahulu, baru orang lain. Sama halnya kita tidak bisa membahagiakan orang lain saat kita sendiri tidak merasa bahagia, kita juga tidak bisa mencintai orang lain saat kita tidak memulainya untuk diri kita.

Dalam kaidah ilmu filsafat, ada kaidah yang berbunyi “Faaqidu Asy-syai’ La Yu’ti”. Artinya, “Yang tidak memiliki sesuatu, maka tidak bisa memberi”. Contoh sederhananya, jika kita tidak memiliki uang, bagaimana mungkin kita bisa memberikan uang kepada orang lain? Kita harus memiliki sesuatu agar bisa memberi. Sama halnya dengan kebahagiaan, kita harus bahagia dulu baru kita bisa bahagiakan orang lain. Begitu juga kita harus punya rasa cinta pada diri sendiri, sebelum bisa mencintai orang lain.

Sekarang tibalah saatnya kita untuk menyadari pilihan-pilihan kita. Jangan takut lagi untuk memutuskan segala sesuatu bagi dirimu. Sekali lagi, kita harus bertanggung jawab pada hidup kita. Jika tidak, maka akan ada orang-orang yang merasa berhak melakukannya. Saat terbiasa menjalani hidup seperti itu, kita akan sulit untuk percaya diri. Tanpa memikul tanggung jawab atas pilihan-pilihan yang kita ambil, maka kita pun tidak akan pernah merasakan kehidupan dan kebahagiaan.

Selama ini kita keliru dalam mencari definisi dari sebuah kebahagiaan. Lalu kemudian kita menjadi sudah terbiasa untuk selalu menjalani kekeliruan tersebut. Kebahagiaan kita, ya tanggung jawab kita. Kebahagiaan harus mengikutsertakan diri kita pada setiap proses jalan  hidup kita. Tanamkan pada diri kita bahwa tidak ada yang bertanggung jawab pada kebahagiaan kita selain diri kita sendiri. Stop berekspektasi. Kita-lah yang memiliki kekuatan untuk menentukan keadaan kita.

Yang perlu diingat juga, kebahagiaan adalah sebuah keadaan. Kita tahu bahwa yang namanya keadaan, pasti sewaktu-waktu berubah. Baik kebahagiaan ataupun kesedihan, tidak ada yang selamanya. Kita terus berubah, begitupun dengan keadaan kita.

Menjadi seorang introvert, membuat saya menyukai kesendirian. Saya sangat suka menghabiskan waktu sendiri. Saat pandemi Covid-19 sedang melanda, mungkin sebagian orang banyak yang merasa bingung dan bosan, bahkan stress karena tidak boleh keluar rumah dan berinteraksi dengan teman. Tapi tidak untuk saya. Saya malah menikmati keadaan tersebut. Kalau sebelumnya di dalam beberapa undangan acara atau ajakan untuk nongkrong bareng, saya harus membuat alasan untuk tidak hadir, sekarang itu tidak perlu lagi.

Saya bisa melakukan banyak hal saat sendiri. Menonton film atau drama, menyanyi, menulis, atau menari untuk meningkatkan mood. Bagi saya, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan hal-hal tersebut sendirian. Tidak akan ada yang mengganggu, mendikte, atau menghakimi kita. Sebenarnya, kita bisa bersenang-senang dengan membangun dunia kita sendiri kok. Bersama orang lain mungkin akan seru, tapi jika tidak ada orang lain, seharusnya itu tidak menghentikan kita untuk tetap melakukan aktivitas menyenangkan. Dari keadaan pandemi inilah kita akhirnya dituntut untuk mulai belajar melakukannya.

Itu juga membuktikan bahwa persepsi kita sangat menentukan keadaan kita. Saat kita merasa tidak bahagia karena jenuh, bosan, bahkan stress karena tidak bisa keluar rumah dan bermain bersama teman, atau berkeliling ke seluruh kota, itu seringkali karena diri kita yang sudah beranggapan bahwa jika bahagia harus disandarkan pada kegiatan-kegiatan semacam itu. Kita menyandarkan kebahagiaan pada sesuatu yang ada di luar kita. Akibatnya, kita jadi kelimpungan saat tidak bisa melakukannya.

Bukan berarti saya sedang mengatakan bahwa seorang ekstrovert salah dan introvert benar. Tidak. Tentu saja hal itu juga berlaku untuk seorang introvert yang terlalu menyukai kesendirian dan tidak suka atau bahkan takut akan keramaian. Sebenarnya, itu juga tidak baik. Pokoknya, apapun itu yang berlebihan ya sudah pasti tidak baik. Percayalah, saya pun sedang belajar untuk mengendalikannya.

Dalam buku Filosofi Teras, Henry Manampiring menyebutkan bahwa Epictetus dalam bukunya Meditation menjelaskan,

“Jika kamu merasa susah karena hal eksternal, maka perasaan susah itu tidak datang dari hal tersebut, tetapi oleh pikiran/persepsimu. Dan kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu kapanpun juga”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengikat Makna: Pelajaran dari Seorang Guru

Mengikat Makna Tribute to:  Bapak Hernowo (Dosen, penulis buku dan tokoh yang menginspirasi saya) "Menulis adalah Tugas dan Kewajiban Kita Sebagai Manusia jika ingin Memahami Makna Hidup" Dulu, saat kuliah, saya beruntung bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim, seorang dosen yang luar biasa dan dikenal sebagai “Man of Letter”. Beliau penulis buku “Mengikat Makna” dan beberapa buku best seller lainnya. Saya sendiri, jujur saja, tidak pernah merasa bisa menulis. Bahkan sampai sekarang, saya masih ragu.   Menjadi penulis?   Tidak pernah terlintas di pikiran saya. Namun, suatu hari, Bapak Hernowo memberikan saya sebuah hadiah yang mengubah pandangan saya.   Beliau memberikan buku miliknya kepada saya. Buku tersebut adalah karya yang ditulis olehnya. Ini terjadi setelah beliau meminta kami untuk menulis esai tentang materi perkuliahannya dan mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, di pertemuan berikutnya, Bapak Hernowo menyebutkan nama saya saat mengumumka...

Bagaimana Cara Agar Kita Bisa Menerima Kesedihan dalam Hidup, dan Bukan Hanya Kesenangan?

  www.istockphoto.com Seperti koin yang punya dua sisi, hidup pun demikian. Adakalanya kita akan menemukan kesenangan, dan adakalanya kita bertemu dengan kesedihan atau kesulitan. Semua manusia mengalaminya, tanpa terkecuali. Hanya saja, mungkin bentuk dari kesenangan dan kesulitan masing-masing individu tentu berbeda, dilihat dari berbagai aspek kehidupan dan pribadi setiap orang. Manusia sering lupa, bahwa sama halnya tidak ada kesenangan yang abadi, maka tidak ada juga penderitaan yang abadi. Sama seperti kita menerima kesenangan dengan tangan terbuka, maka seharusnya begitu juga ketika kita menerima kesedihan. Jika kita bisa menyambut kesenangan, mengapa kita tidak bisa menghargai kesulitan yang ada di hadapan kita? Saya jadi teringat kata-kata bijak   yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer: “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” -Pramoedya Ananta...

Memahami Makna Hidup Bahagia

  www.sonora.id Kita semua bisa mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hal yang diinginkan semua orang. Dalai Lama menyebutnya sebagai tujuan hidup manusia. Manusia hidup, ya untuk bahagia. Tentu saja tidak ada orang yang tidak ingin hidup bahagia. Lalu, berbagai cara pun akhirnya kita lakukan untuk meraih kebahagiaan. Namun, pernahkan kita bertanya-tanya, terkait makna kebahagiaan itu sendiri? Apakah sebenarnya   yang dimaksud dengan kebahagiaan? Menurut sebagian orang, kebahagiaan bersifat subjektif. Oleh karena itu, pemaknaannya bagi setiap orang mungkin saja berbeda-beda. Katakanlah kebahagiaan yang dimaksud oleh anak-anak berusia tujuh tahun tentu berbeda dengan kebahagiaan menurut mereka yang sudah beranjak dewasa. Kebahagiaan seseorang yang memiliki kepribadian introvert dengan ekstrovert pun biasanya berbeda. Dan   lain sebagainya. Sedangkan kebahagiaan yang sifatnya objektif, seringkali diukur dengan beberapa acuan yang berupa aturan tertentu. Misalnya tidak sak...