Seringkali
yang membuat kita kecewa bukanlah orang lain, bukan sesuatu yang di luar diri
kita, melainkan dari dalam diri kita sendiri, yaitu ekspektasi kita. Ekspektasi
kita terhadap orang lain, membuat kita berharap bahwa jika ingin bahagia, kita
harus bersama mereka. Misalnya, seseorang yang memiliki pasangan, menganggap
bahwa ia hanya akan bahagia jika ia bersama pasangannya. Secara tidak langsung,
ia pun akhirnya memiliki ketergantungan terhadap pasangannya itu untuk setiap
kebahagiaannya. Tidak ada pasangan, tidak bahagia. Atau, ketika pasangannya
melakukan sesuatu yang di luar ekspektasi atau harapannya, maka ia pun akan
kecewa.
Contohnya,
beberapa pasangan, entah itu pasangan suami istri atau hanya pacaran, tidak
jarang dari mereka yang menganggap bahwa ketika sudah memiliki pasangan, maka
pasangan mereka harus bisa membuatnya bahagia. Tidak cukup hanya disitu, tapi
segala sesuatu harus disandarkan pada pasangan mereka, baik laki-laki atau
perempuan. Misal, sang istri seringkali berharap agar suaminya selalu menjemput
dan mengantarnya pergi kemanapun. Sang suami juga sama, ia berekspektasi bahwa
perempuannya bisa melakukan semua pekerjaan rumah, atau apapun yang biasanya
disandarkan pada perempuan.
Kita
seringkali secara tidak sadar, melakukan hal seperti itu. Akibatnya, hubungan
yang tersisa hanyalah sebatas kegiatan saling menuntut satu sama lain. Begitulah
dewasa ini orang-orang memulai sebuah relasi. Itulah mengapa ada pepatah yang
mengatakan bahwa relasi dengan orang lain bagaikan pedang bermata dua. Ia tidak
hanya mendatangkan kebahagiaan, tapi juga penderitaan. Dan ini berlaku untuk
semua bentuk relasi.
Tapi tahu faktanya? Secara hakikat, kebahagiaan
sepenuhnya datang dari diri kita. Ia bukan datang dari orang tua kita, dan
bukan juga dari pasangan, sahabat atau teman-teman kita. Menunggu orang lain
untuk memberikan kita kebahagiaan menjadi hal yang aneh dan tidak masuk akal. Dan
hal itulah justru yang akan menjauhkan diri kita dari rasa bahagia. Ya karena
ekspektasi itu tadi, harapan akan orang lain yang bertanggung jawab terhadap
kebahagiaan kita. Saat ekspektasi tersebut
tidak terpenuhi, maka kita akan merasa kecewa.
Kebahagiaan
adalah pilihan kita. Kita bisa memilih untuk mendefinisikan kebahagiaan kita
sendiri. Keep in mind: Kebahagiaan kita, tanggung jawab kita. Tentu saja itu
karena tidak ada yang mengenal dan memahami diri kita sebaik diri kita sendiri.
Apakah kalian setuju? Jika ada yang tidak setuju dan merasa orang lain lebih
mengenal kita lebih baik daripada diri kita, itu tandanya kita sedang terjebak
oleh pikiran kita sendiri. Sebabnya antara lain adalah rasa ketakutan kita.
Kita takut untuk mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya. Oleh karena itu,
kita lebih percaya pada orang lain dan menyembunyikan diri.
Kita
harus bisa membebaskan diri kita. Jika sebelumnya kita berpandangan seperti
itu, dan kita selalu merasa bahwa hanya sesuatu yang di luar diri kita yang
akan dan bisa membuat kita bahagia, maka kita harus bisa terlepas dari itu
semua.
Diri
kita tersusun oleh banyak hal dan juga peristiwa dalam hidup. Terkadang, kita memang
tidak selalu mendapati hal-hal yang menyenangkan, melainkan kebalikannya. Itu
semua mungkin membuat kita memiliki bayang-bayang yang menakutkan terhadap diri
sendiri. Kekhawatiran bermunculan, tak jarang kita pun menyerang dan membenci
diri sendiri. Padahal, bahkan semua peristiwa dalam hidup itu sudah membentuk
diri kita hingga sekarang ini, bukan? Berterimakasihlah pada dirimu.
Kalau
diingat-ingat, setiap kita berkeliling di pusat perbelanjaan, dan hendak membeli
suatu barang, kita seringkali meminta pendapat dari teman kita. Kita juga tak
jarang meminta saran dari orang lain saat dihadapkan dengan keputusan yang
sulit. Lalu, kita akan percaya dan langsung menuruti mereka karena berpikir
pilihan mereka akan lebih baik daripada diri kita yang membuat pilihan
tersebut.
Itu
hanya sebuah contoh peristiwa sederhana yang sering terjadi. Tentu banyak
sekali contoh-contoh yang lain. Pertanyaannya? Mengapa kita begitu percaya pada
orang lain, dan bukan pada diri sendiri? Padahal, siapakah yang paling sering
menghabiskan waktu bersama kita selain diri kita sendiri? Siapakah yang
merasakan semua masa-masa sulit yang dihadapi oleh diri kita kalau bukan diri
kita sendiri? Tapi mengapa sangat sulit untuk memahami diri?
Mari
kita akui, mencintai diri sendiri memang lebih sulit daripada mencintai orang
lain. Padahal, kita memiliki begitu banyak alasan untuk mencintai diri. Kita
juga tidak perlu susah payah, bukan? Bahkan, tidak perlu izin untuk melakukannya.
Kita seringkali mencintai orang lain tanpa alasan, tanpa syarat, tanpa pamrih,
dsb. Tapi bagaimana dengan diri kita? Mengapa kita begitu membangun tembok dan
standar yang sangat besar untuk bisa mencintainya? Lalu, siapa lagi yang akan mencintai
diri kita kalau bukan diri kita sendiri?
Lagipula,
bagaimana kita bisa mencintai orang lain jika belum mencintai diri sendiri?
Kita pasti belum memiliki pemahaman sempurna mengenai hakikat mencintai. Cintai
dirimu terlebih dahulu, baru orang lain. Sama halnya kita tidak bisa
membahagiakan orang lain saat kita sendiri tidak merasa bahagia, kita juga
tidak bisa mencintai orang lain saat kita tidak memulainya untuk diri kita.
Dalam
kaidah ilmu filsafat, ada kaidah yang berbunyi “Faaqidu Asy-syai’ La Yu’ti”. Artinya,
“Yang tidak memiliki sesuatu, maka tidak bisa memberi”. Contoh sederhananya,
jika kita tidak memiliki uang, bagaimana mungkin kita bisa memberikan uang
kepada orang lain? Kita harus memiliki sesuatu agar bisa memberi. Sama halnya
dengan kebahagiaan, kita harus bahagia dulu baru kita bisa bahagiakan orang
lain. Begitu juga kita harus punya rasa cinta pada diri sendiri, sebelum bisa mencintai
orang lain.
Sekarang
tibalah saatnya kita untuk menyadari pilihan-pilihan kita. Jangan takut lagi untuk
memutuskan segala sesuatu bagi dirimu. Sekali lagi, kita harus bertanggung
jawab pada hidup kita. Jika tidak, maka akan ada orang-orang yang merasa berhak
melakukannya. Saat terbiasa menjalani hidup seperti itu, kita akan sulit untuk
percaya diri. Tanpa memikul tanggung jawab atas pilihan-pilihan yang kita
ambil, maka kita pun tidak akan pernah merasakan kehidupan dan kebahagiaan.
Selama
ini kita keliru dalam mencari definisi dari sebuah kebahagiaan. Lalu kemudian
kita menjadi sudah terbiasa untuk selalu menjalani kekeliruan tersebut.
Kebahagiaan kita, ya tanggung jawab kita. Kebahagiaan harus mengikutsertakan
diri kita pada setiap proses jalan hidup
kita. Tanamkan pada diri kita bahwa tidak ada yang bertanggung jawab pada
kebahagiaan kita selain diri kita sendiri. Stop berekspektasi. Kita-lah yang
memiliki kekuatan untuk menentukan keadaan kita.
Yang
perlu diingat juga, kebahagiaan adalah sebuah keadaan. Kita tahu bahwa yang
namanya keadaan, pasti sewaktu-waktu berubah. Baik kebahagiaan ataupun kesedihan,
tidak ada yang selamanya. Kita terus berubah, begitupun dengan keadaan kita.
Menjadi
seorang introvert, membuat saya menyukai kesendirian. Saya sangat suka menghabiskan
waktu sendiri. Saat pandemi Covid-19 sedang melanda, mungkin sebagian orang
banyak yang merasa bingung dan bosan, bahkan stress karena tidak boleh keluar
rumah dan berinteraksi dengan teman. Tapi tidak untuk saya. Saya malah
menikmati keadaan tersebut. Kalau sebelumnya di dalam beberapa undangan acara
atau ajakan untuk nongkrong bareng, saya harus membuat alasan untuk tidak
hadir, sekarang itu tidak perlu lagi.
Saya
bisa melakukan banyak hal saat sendiri. Menonton film atau drama, menyanyi,
menulis, atau menari untuk meningkatkan mood. Bagi saya, tidak ada yang lebih
menyenangkan daripada melakukan hal-hal tersebut sendirian. Tidak akan ada yang
mengganggu, mendikte, atau menghakimi kita. Sebenarnya, kita bisa
bersenang-senang dengan membangun dunia kita sendiri kok. Bersama orang lain
mungkin akan seru, tapi jika tidak ada orang lain, seharusnya itu tidak
menghentikan kita untuk tetap melakukan aktivitas menyenangkan. Dari keadaan
pandemi inilah kita akhirnya dituntut untuk mulai belajar melakukannya.
Itu
juga membuktikan bahwa persepsi kita sangat menentukan keadaan kita. Saat kita
merasa tidak bahagia karena jenuh, bosan, bahkan stress karena tidak bisa
keluar rumah dan bermain bersama teman, atau berkeliling ke seluruh kota, itu
seringkali karena diri kita yang sudah beranggapan bahwa jika bahagia harus
disandarkan pada kegiatan-kegiatan semacam itu. Kita menyandarkan kebahagiaan
pada sesuatu yang ada di luar kita. Akibatnya, kita jadi kelimpungan saat tidak
bisa melakukannya.
Bukan
berarti saya sedang mengatakan bahwa seorang ekstrovert salah dan introvert
benar. Tidak. Tentu saja hal itu juga berlaku untuk seorang introvert yang
terlalu menyukai kesendirian dan tidak suka atau bahkan takut akan keramaian.
Sebenarnya, itu juga tidak baik. Pokoknya, apapun itu yang berlebihan ya sudah
pasti tidak baik. Percayalah, saya pun sedang belajar untuk mengendalikannya.
Dalam
buku Filosofi Teras, Henry Manampiring menyebutkan bahwa Epictetus dalam
bukunya Meditation menjelaskan,
“Jika kamu merasa susah karena hal eksternal, maka perasaan susah itu tidak datang dari hal tersebut, tetapi oleh pikiran/persepsimu. Dan kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu kapanpun juga”.

Komentar
Posting Komentar