Langsung ke konten utama

Fitnah di Zaman ini Bernama Hoaks

 

source image: kementrian komunikasi dan informatika


“Al- Fitnatu Asyaddu Minal Qatla” (Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan)

Semua orang tahu bahwa fitnah merupakan kejahatan terbesar di muka bumi ini. Bahkan, pembunuhan yang sudah jelas terasa kejamnya pun, masih kalah rating jika kita melihat konteks dalam hadits tersebut. Dewasa ini, dengan melejitnya teknologi dan informasi yang semakin berkembang, fitnah dilabeli dengan istilah baru oleh suatu kelompok masyarakat dengan istilah hoaks. Sehingga kini semua masyarakat pun bergeser untuk lebih memilih kata “hoaks” dalam menyebut kata fitnah.

Dalam KBBI (2016), Hoaks diartikan sebagai berita bohong, tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya (dusta). Sementara itu, Fitnah memiliki definisi sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Jadi jelas ya, keduanya punya makna yang sama.

Seorang pakar informasi bernama Mastel melakukan riset tentang hoax dengan mensurvei responden dari masyarakat dengan beberapa kriteria latar belakang pendidikan, jenis kelamin, umur, dan status yang berbeda,. Dari penelitian tersebut diperoleh fakta bahwa 90,30% responden menjawab hoaks merupakan berita bohong yang disengaja.

Adapun yang lainnya sebesar 12,60% menjawab bahwa hoaks adalah berita yang menyudutkan pemerintah (Mastel, 2017). Dari data tersebut, dapat kita pahami bahwa mayoritas masyarakat mengartikan hoax sebagai berita bohong yang disengaja. Dan lainnya pun sepakat bahwa hoax dibuat dengan tujuan menyudutkan suatu pihak.

Satu titik yang dipertanyakan disini, dengan melihat pengertian maupun survey tentang hoax, lalu apakah ia merupakan makhluk yang lain daripada fitnah? kita kembalikan ke pernyataan awal tentang fitnah. Mengapa justru dengan adanya pergeseran kata fitnah menjadi hoaks, semakin mendatangkan maraknya aksi-aksi penyebaran berita palsu?

Melejitnya berita-berita bohong, terutama melalui media online, tidak jarang menimbulkan banyak kalau tidak perpecahan, ya paling banter kesalahpahaman. Kerap kali juga hoaks menimbulkan banyak masalah dan kekhawatiran dari berbagai pihak. Penyebaran informasi-informasi yang berisi ujaran kebencian, fitnah, kebohongan, bullying, penipuan berkedok online shop, dan sebagainya begitu marak dan berselancar bebas di dunia maya.

Meskipun sudah ada rambu-rambu yang dapat mencegah bahkan menyeret dan menjerat pelakunya hingga ke penjara, rupanya tidak juga membuat mereka jera. Alih-alih kapok, imbauan, acaman hukuman, pencegahan, yang tak henti-hentinya disampaikan dan dikampanyekan lewat media elektronik, cetak, hingga online oleh para birokrat, teknokrat, hingga komunitas masyarakat yang peduli dan prihatin dengan nasib anak bangsa Indonesia ini malah berakhir pada sikap apatis dan perasaan yang menganggap bahwa semuanya baik-baik saja. Satu kata, Melek lah gaes!

Banjir informasi palsu ini pun sudah melanda hampir di seluruh penjuru dunia, di setiap lapisan masyarakat mulai yang kelas teri sampai yang kakap, dari rakyat jelata hingga kalangan artis/sosialita, politikus, pebisnis, maupun pejabat. Dampak yang ditimbulkan dari penyebaran hoaks pun nggak remeh juga. Ia sering kali meresahkan, mengganggu, bahkan mengancam psikologis, nama baik, kedudukan, dan kehidupan baik sosial maupun pribadi setiap orang.

Anehnya, masyarakat sendiri cenderung melakukan pembiaran, sikap acuh, malah menikmati dan menganggapnya sebagai selingan saja, atau malah cenderung dengan sukarela menyebarkannya lagi, dan lagi, dan lagi entah sampai kapan. Mungkin sampai gajah bisa dimasukin ke dalam telur juga kedok-kedoknya memang akan terus eksis dan terus menyebar. Entah karena tidak tahu atau tidak mau tahu.

Sebenarnya, hoax bukan perkara baru. Yang begituan ternyata sudah ada dari zaman Rasulullah. Padahal, kalau kita mau menyalahkan teknologi yang semakin pesat, faktanya di zaman nabi belum ada teknologi, tapi penyebaran berita palsu sudah terjadi. Kita tahu cerita dimana fitnah menimpa istri Nabi, yaitu Siti Aisyah.

Beliau dituduh berselingkuh dengan pemuda yang bernama Shafwan. Namun, apa yang sebenarnya terjadi adalah Siti Aisyah yang tertinggal rombongan ditolong oleh Shafwan dengan membawanya naik ke kuda miliknya, sedangkan dirinya berjalan kaki. Nah, berita palsu yang mencuat ini pada akhirnya terdengarlah sampai ke telinga Rasulullah. Tapi karena kebijakannya, Rasul pun memberi Aisyah kesempatan untuk menjelaskan dan mengklarifikasi berita bohong yang menuduh dirinya itu.

Di zaman sekarang ini, makhluk bernama hoaks makin merajalela seperti sel ganas. Makin ironis lagi, mereka yang mengetahui juga bukannya sadar, mereka justru ambil bagian sebagai penikmat berita yang sedang membodohinya itu. Dan tambah mirisnya lagi, ketika kita menyaksikan adik-adik kita para generasi micin yang sungguh sangat mahir mengoperasikan akses-akses internet di dunia maya yang kita semua pun tahu, bisa dibilang mau sengaja kek, engga sengaja kek, seringkali memunculkan ke-vulgaran dalam banyak hal dan mereka pun bisa dengan mudah menelannya mentah-mentah.

Kerap kali juga terjadi banyaknya kasus-kasus yang tidak selayaknya terjadi. Misalnya, kita angkat kasus bullying. Berita bohong yang sengaja dibuat oleh kelompok tertentu, yang akhirnya dengan sukarela disebarluaskan oleh mereka baik yang mempunyai kepentingan, yang ingin seru-seruan, atau yang mau dibilang melek informasi. Melek informasi? Terima kenyataan lah, itu namanya melek gosip. Walhasil, hoaks ini membuahkan kasus-kasus yang pada akhirnya membawa mereka pada tindakan kriminal.

Kasus lain lagi, belakangan ini terjadi banyaknya aksi-aksi seperti ujaran kebencian, ancaman, yang tidak sedikit berujung pada kasus pembunuhan. Sungguh tragis makhluk ini bukan? Lalu apa bedanya ia dengan fitnah?Fitnah kejam, hoaks pun sama. Hanya saja, kata fitnah diganti menjadi hoaks seakan mengalami sebuah devaluasi makna pada dirinya yang akhirnya menyebabkan keringanan beban seseorang yang melakukannya.

Ketika fitnah bertransformasi menjadi hoaks, akhirnya ia dianggap hal sepele yang tidak lagi dianggap besar dampaknya, sehingga dianggap tidak perlu dibesar-besarkan. Justru itulah inti masalahnya. Hoaks akhirnya menjadi makna sepele di kepala kita dibandingkan dengan kata fitnah. iya kan? Padahal, keduanya merupakan dua kata yang memiliki makna yang satu.

Intinya, untuk tujuan apapun itu, hoaks tetaplah hoaks. Tetep keep in mind ya guys, hoaks tuh sama dengan fitnah! So, jangan dianggap sepele, jangan jadi apatis nganggep itu gak perlu dibesar-besarkan. Malah yang benar adalah yang besar jangan dianggap remeh. Prinsip dalam hidupnya, fitnah tak jauh dari motifnya yang hanya untuk menekan, membebani, menyebarluaskan kegelisahan, dan membuat takut setiap orang sehingga membuat kekacauan dimana-mana. Dan, hoaks pun sama. Catet ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengikat Makna: Pelajaran dari Seorang Guru

Mengikat Makna Tribute to:  Bapak Hernowo (Dosen, penulis buku dan tokoh yang menginspirasi saya) "Menulis adalah Tugas dan Kewajiban Kita Sebagai Manusia jika ingin Memahami Makna Hidup" Dulu, saat kuliah, saya beruntung bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim, seorang dosen yang luar biasa dan dikenal sebagai “Man of Letter”. Beliau penulis buku “Mengikat Makna” dan beberapa buku best seller lainnya. Saya sendiri, jujur saja, tidak pernah merasa bisa menulis. Bahkan sampai sekarang, saya masih ragu.   Menjadi penulis?   Tidak pernah terlintas di pikiran saya. Namun, suatu hari, Bapak Hernowo memberikan saya sebuah hadiah yang mengubah pandangan saya.   Beliau memberikan buku miliknya kepada saya. Buku tersebut adalah karya yang ditulis olehnya. Ini terjadi setelah beliau meminta kami untuk menulis esai tentang materi perkuliahannya dan mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, di pertemuan berikutnya, Bapak Hernowo menyebutkan nama saya saat mengumumka...

Bagaimana Cara Agar Kita Bisa Menerima Kesedihan dalam Hidup, dan Bukan Hanya Kesenangan?

  www.istockphoto.com Seperti koin yang punya dua sisi, hidup pun demikian. Adakalanya kita akan menemukan kesenangan, dan adakalanya kita bertemu dengan kesedihan atau kesulitan. Semua manusia mengalaminya, tanpa terkecuali. Hanya saja, mungkin bentuk dari kesenangan dan kesulitan masing-masing individu tentu berbeda, dilihat dari berbagai aspek kehidupan dan pribadi setiap orang. Manusia sering lupa, bahwa sama halnya tidak ada kesenangan yang abadi, maka tidak ada juga penderitaan yang abadi. Sama seperti kita menerima kesenangan dengan tangan terbuka, maka seharusnya begitu juga ketika kita menerima kesedihan. Jika kita bisa menyambut kesenangan, mengapa kita tidak bisa menghargai kesulitan yang ada di hadapan kita? Saya jadi teringat kata-kata bijak   yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer: “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” -Pramoedya Ananta...

Memahami Makna Hidup Bahagia

  www.sonora.id Kita semua bisa mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hal yang diinginkan semua orang. Dalai Lama menyebutnya sebagai tujuan hidup manusia. Manusia hidup, ya untuk bahagia. Tentu saja tidak ada orang yang tidak ingin hidup bahagia. Lalu, berbagai cara pun akhirnya kita lakukan untuk meraih kebahagiaan. Namun, pernahkan kita bertanya-tanya, terkait makna kebahagiaan itu sendiri? Apakah sebenarnya   yang dimaksud dengan kebahagiaan? Menurut sebagian orang, kebahagiaan bersifat subjektif. Oleh karena itu, pemaknaannya bagi setiap orang mungkin saja berbeda-beda. Katakanlah kebahagiaan yang dimaksud oleh anak-anak berusia tujuh tahun tentu berbeda dengan kebahagiaan menurut mereka yang sudah beranjak dewasa. Kebahagiaan seseorang yang memiliki kepribadian introvert dengan ekstrovert pun biasanya berbeda. Dan   lain sebagainya. Sedangkan kebahagiaan yang sifatnya objektif, seringkali diukur dengan beberapa acuan yang berupa aturan tertentu. Misalnya tidak sak...