Langsung ke konten utama

Kenapa Perempuan Korban Kekerasan Seksual Selalu Disalahkan?

 


source image: mubaadalah.id


Kenapa perempuan korban kekerasan seksual selalu disalahkan? Hal ini jamak sekali terjadi di pelbagai kasus kekerasan seksual. Bahkan oleh penagak hukum sekalipun. 

Perempuan merupakan makhluk yang dianggap sangat lemah, mengingat dari watak mereka yang mudah disinggung, diancam, disakiti, dan sebagainya. Mereka terus menerus menjadi sasaran empuk terhadap tindak kejahatan yang dilakukan oleh berbagai oknum. Meraka kerap menjadi korban pelecehan seksual.

Pelecehan seksual termasuk ke dalam tindak kekerasan seksual. Seringkali yang menjadi korban kekerasan ini adalah perempuan. Hal ini tentu menjadi perhatian khusus, melihat perempuan juga merupakan manusia yang memiliki hak-hak yang sama dengan kaum laki-laki.

Perilaku-perilaku kasar yang menimpa tentu akan sangat mengganggu jiwa mereka. Begitu pula dengan tindak kekerasan seksual. Kita melupakan suatu hal bahwa kekerasan seksual bukanlah hanya kekerasan yang berbentuk fisik. Tapi juga hal-hal yang bersifat verbal maupun psikis. Semua itu tentu sangat berpengaruh terhadap masa depan mereka.

Segala penyelewengan yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan akan mendapatkan balasan berupa hukuman yang akan menimpa mereka nantinya. Namun, nyatanya segala bentuk peraturan dan hukuman bagi pelaku kejahatan tersebut tidaklah memberikan efek jera.

Aksi-aksi kekerasan terhadap wanita semakin sering terjadi, dan pelecehan seksual adalah salah satunya yang kian mencuat di negeri ini.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia mengatakan bahwa “semua orang dilahirkan bebas dan dengan martabat yang setara.” Pasal ini menjelaskan tentang pemberdayaan perempuan, karena pada realitasnya sekarang perempuan selalu disalahkan dan dijadikan sasaran perilaku kejahatan.

Namun, segala bentuk aturan yang ada, yang tadinya bertujuan untuk mencegah dan meminimalisir tindak kriminalitas, ternyata kini faktanya tidak memberikan efek apapun. Kejahatan tersebut telah ada dimana-mana, dengan berbagai cara dan prosesnya yang berbeda-beda.

Belum lagi, korban kekerasan seringkali malah menjadi korban. Korban diadili sebagai pelaku kejahatan lainnya yang dilaporkan pelaku kekersan.

Seringkali juga terdengar suara-suara yang menyalahkan korban pada setiap tindak kekerasan seksual. Seperti bahwa salah korban karena memakai pakaian yang tidak senonoh. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menyalahkan itu adalah sesama perempuan.

Jika memang pelecehan tersebut memang salah korban yang diangggap berpakain tidak senonoh, bagaimana terhadap contoh kasus kali ini yang mana korbannya adalah perempuan yang masih anak-anak, dan berpakaian seragam sekolah? Apakah tetap mau disalahkan juga si korban?

Sebuah penelitian di Brussel, Belgia, menciptakan sebuah museum yang memamerkan sebanyak 18 baju korban pemerkosaan. Baju yang dipamerkan tidak ada yang terlalu terbuka atau seksi. Ada piyama, seragam polisi, dan celana jeans. Bahkan, ada juga baju anak My Little Poni.

Pameran ini membawa sebuah pesan, bahwa model baju bukanlah pemicu pemerkosaan atu pelecehan seksual. Banyak korban pelecehan seksual yang disalahkan, akibat baju yan mereka pakai.

“Saya waktu itu mengenakan seragam dan bersenjata lengkap, namun tetap tidak bisa menghindari pemerkosaan,” ungkap salah seorang polisi wanita yang kerap menjadi korban pemerkosaan saat sedang menjalankan tugasnya.

Jadi, apakah pelecehan dipicu oleh korbannya?

Kasus serupa yang terjadi di negeri sudah banyak. Namun, apakah kita akan terus menyalahkan korban? Atau kita sebagai sesama manusia akan lebih menegakkan aturan secara adil kepada seluruh masyarakat?

Bukankah kita harus saling melindungi agar tindak kejahatan tidak lagi terjadi kepada siapapun, dan pihak manapun? Karena sebagaimana yang kita ketahui bersama, sesama manusia, its not based on gender. Saling melindungi itu harus dilakukan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengikat Makna: Pelajaran dari Seorang Guru

Mengikat Makna Tribute to:  Bapak Hernowo (Dosen, penulis buku dan tokoh yang menginspirasi saya) "Menulis adalah Tugas dan Kewajiban Kita Sebagai Manusia jika ingin Memahami Makna Hidup" Dulu, saat kuliah, saya beruntung bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim, seorang dosen yang luar biasa dan dikenal sebagai “Man of Letter”. Beliau penulis buku “Mengikat Makna” dan beberapa buku best seller lainnya. Saya sendiri, jujur saja, tidak pernah merasa bisa menulis. Bahkan sampai sekarang, saya masih ragu.   Menjadi penulis?   Tidak pernah terlintas di pikiran saya. Namun, suatu hari, Bapak Hernowo memberikan saya sebuah hadiah yang mengubah pandangan saya.   Beliau memberikan buku miliknya kepada saya. Buku tersebut adalah karya yang ditulis olehnya. Ini terjadi setelah beliau meminta kami untuk menulis esai tentang materi perkuliahannya dan mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, di pertemuan berikutnya, Bapak Hernowo menyebutkan nama saya saat mengumumka...

Bagaimana Cara Agar Kita Bisa Menerima Kesedihan dalam Hidup, dan Bukan Hanya Kesenangan?

  www.istockphoto.com Seperti koin yang punya dua sisi, hidup pun demikian. Adakalanya kita akan menemukan kesenangan, dan adakalanya kita bertemu dengan kesedihan atau kesulitan. Semua manusia mengalaminya, tanpa terkecuali. Hanya saja, mungkin bentuk dari kesenangan dan kesulitan masing-masing individu tentu berbeda, dilihat dari berbagai aspek kehidupan dan pribadi setiap orang. Manusia sering lupa, bahwa sama halnya tidak ada kesenangan yang abadi, maka tidak ada juga penderitaan yang abadi. Sama seperti kita menerima kesenangan dengan tangan terbuka, maka seharusnya begitu juga ketika kita menerima kesedihan. Jika kita bisa menyambut kesenangan, mengapa kita tidak bisa menghargai kesulitan yang ada di hadapan kita? Saya jadi teringat kata-kata bijak   yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer: “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” -Pramoedya Ananta...

Memahami Makna Hidup Bahagia

  www.sonora.id Kita semua bisa mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hal yang diinginkan semua orang. Dalai Lama menyebutnya sebagai tujuan hidup manusia. Manusia hidup, ya untuk bahagia. Tentu saja tidak ada orang yang tidak ingin hidup bahagia. Lalu, berbagai cara pun akhirnya kita lakukan untuk meraih kebahagiaan. Namun, pernahkan kita bertanya-tanya, terkait makna kebahagiaan itu sendiri? Apakah sebenarnya   yang dimaksud dengan kebahagiaan? Menurut sebagian orang, kebahagiaan bersifat subjektif. Oleh karena itu, pemaknaannya bagi setiap orang mungkin saja berbeda-beda. Katakanlah kebahagiaan yang dimaksud oleh anak-anak berusia tujuh tahun tentu berbeda dengan kebahagiaan menurut mereka yang sudah beranjak dewasa. Kebahagiaan seseorang yang memiliki kepribadian introvert dengan ekstrovert pun biasanya berbeda. Dan   lain sebagainya. Sedangkan kebahagiaan yang sifatnya objektif, seringkali diukur dengan beberapa acuan yang berupa aturan tertentu. Misalnya tidak sak...