Kenapa perempuan korban kekerasan seksual selalu disalahkan? Hal ini
jamak sekali terjadi di pelbagai kasus kekerasan seksual. Bahkan oleh penagak
hukum sekalipun.
Perempuan
merupakan makhluk yang dianggap sangat lemah, mengingat dari watak mereka yang
mudah disinggung, diancam, disakiti, dan sebagainya. Mereka terus menerus
menjadi sasaran empuk terhadap tindak kejahatan yang dilakukan oleh berbagai
oknum. Meraka kerap menjadi korban pelecehan seksual.
Pelecehan
seksual termasuk ke dalam tindak kekerasan seksual. Seringkali yang menjadi
korban kekerasan ini adalah perempuan. Hal ini tentu menjadi perhatian khusus,
melihat perempuan juga merupakan manusia yang memiliki hak-hak yang sama dengan
kaum laki-laki.
Perilaku-perilaku
kasar yang menimpa tentu akan sangat mengganggu jiwa mereka. Begitu pula dengan
tindak kekerasan seksual. Kita melupakan suatu hal bahwa kekerasan seksual
bukanlah hanya kekerasan yang berbentuk fisik. Tapi juga hal-hal yang bersifat
verbal maupun psikis. Semua itu tentu sangat berpengaruh terhadap masa depan
mereka.
Segala
penyelewengan yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan akan mendapatkan
balasan berupa hukuman yang akan menimpa mereka nantinya. Namun, nyatanya
segala bentuk peraturan dan hukuman bagi pelaku kejahatan tersebut tidaklah
memberikan efek jera.
Aksi-aksi
kekerasan terhadap wanita semakin sering terjadi, dan pelecehan seksual adalah
salah satunya yang kian mencuat di negeri ini.
Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia mengatakan bahwa “semua orang dilahirkan bebas
dan dengan martabat yang setara.” Pasal ini menjelaskan tentang pemberdayaan
perempuan, karena pada realitasnya sekarang perempuan selalu disalahkan dan
dijadikan sasaran perilaku kejahatan.
Namun,
segala bentuk aturan yang ada, yang tadinya bertujuan untuk mencegah dan
meminimalisir tindak kriminalitas, ternyata kini faktanya tidak memberikan efek
apapun. Kejahatan tersebut telah ada dimana-mana, dengan berbagai cara dan
prosesnya yang berbeda-beda.
Belum lagi,
korban kekerasan seringkali malah menjadi korban. Korban diadili sebagai pelaku
kejahatan lainnya yang dilaporkan pelaku kekersan.
Seringkali
juga terdengar suara-suara yang menyalahkan korban pada setiap tindak kekerasan
seksual. Seperti bahwa salah korban karena memakai pakaian yang tidak senonoh.
Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menyalahkan itu adalah sesama perempuan.
Jika memang
pelecehan tersebut memang salah korban yang diangggap berpakain tidak senonoh,
bagaimana terhadap contoh kasus kali ini yang mana korbannya adalah perempuan
yang masih anak-anak, dan berpakaian seragam sekolah? Apakah tetap mau
disalahkan juga si korban?
Sebuah
penelitian di Brussel, Belgia, menciptakan sebuah museum yang memamerkan
sebanyak 18 baju korban pemerkosaan. Baju yang dipamerkan tidak ada yang
terlalu terbuka atau seksi. Ada piyama, seragam polisi, dan celana jeans.
Bahkan, ada juga baju anak My Little Poni.
Pameran ini
membawa sebuah pesan, bahwa model baju bukanlah pemicu pemerkosaan atu
pelecehan seksual. Banyak korban pelecehan seksual yang disalahkan, akibat baju
yan mereka pakai.
“Saya waktu
itu mengenakan seragam dan bersenjata lengkap, namun tetap tidak bisa
menghindari pemerkosaan,” ungkap salah seorang polisi wanita yang kerap menjadi
korban pemerkosaan saat sedang menjalankan tugasnya.
Jadi,
apakah pelecehan dipicu oleh korbannya?
Kasus
serupa yang terjadi di negeri sudah banyak. Namun, apakah kita akan terus
menyalahkan korban? Atau kita sebagai sesama manusia akan lebih menegakkan
aturan secara adil kepada seluruh masyarakat?
Bukankah
kita harus saling melindungi agar tindak kejahatan tidak lagi terjadi kepada
siapapun, dan pihak manapun? Karena sebagaimana yang kita ketahui bersama,
sesama manusia, its not based on gender. Saling
melindungi itu harus dilakukan.

Komentar
Posting Komentar