Sudah saatnya kata
“mental” tidak menjadi hal yang mengerikan. Sudah saatnya tidak tabu untuk
kita membicarakannya.
World Mental
Health yang selama ini kita peringati, tentu bukan hanya sekedar peringatan
tanpa arti. Peringatan tersebut, sejatinya membawa sebuah pesan kepada kita untuk
menyadari betapa pentingnya kesehatan
mental. Apalagi pada zaman sekarang ini, dimana kita semua agaknya punya
“kegilaannya” sendiri-sendiri. Seperti halnya setiap orang pernah jatuh sakit
(pada tubuhnya), pernah demam, flu, bahkan penyakit yang berat seperti typhus,
DBD, cacar, dan berbagai penyakut tubuh lainnya. Kita semua pun mungkin juga
pernah atau bahkan sedang mengalami masalah pada otak kita. Maksudnya, pada
pikiran (mental) kita.
Namun, sialnya,
masalah pada pikiran (mental), seringkali mendapati respon yang kurang bagus
untuk dibicarakan. Jangankan untuk dibicarakan, diakui saja enggan. Mereka yang
bicara mengenai kesehatan mentalnya, mengakuinya, kemudian akan dianggap
“gila”, “stress”, dan “gak waras”. Orang-orang akan bebas untuk mengatakan “gue
dari rumah sakit, operasi ginjal”, dll, tapi jika kita bercerita kalau kita
sedang menjalani terapi kesehatan mental? Di saat kita mengeluh sakit perut,
pusing, keluarga kita akan langsung membawa kita ke dokter. Tapi, beda lagi
ceritanya kalau yang bermasalah itu pikiran (mental) kita, apa yang terjadi?
Seluruh keluarga akan diam, ssshh.. tutup mulutmu (shut up!). Padahal, otak
yang merupakan sumber dari pikiran ini juga termasuk bagian dari tubuh, bukan?
Let me tell you
that I’m not the only one who surprised, right?
Tentu gak semua
orang. Saya yakin masih banyak mereka yang peduli sama kesehatan mentalnya. But
now, saya pingin fokus buat yang masih tabu ngomongin masalah mental.
Disclaimer, saya bukan ahli psikologi atau pakar kesehatan mental, saya hanya
sedang belajar, dan saya rasa semua orang memang sudah seharusnya melek akan
issue ini. Tentu saja karena menjaga kesehatan mental sama pentingnya seperti
menjaga kesehatan tubuh kita, bahkan, lebih penting.
Pikiran (mental)
adalah inti dari tubuh, atau lebih tepatnya ‘diri’ kita. Sebagaimana yang kita
tahu, otak yang memiliki peran untuk mengatur dan mengkoordinir gerakan seluruh
sistem dan pikiran kita, merupakan bagian terpenting. Dan, ketika bagian
terpenting dari tubuh ini kemudian mengalami gangguan atau masalah, sekecil
apapun itu, akan mengganggu sistem kerja yang lainnya, bukan? Bayangkan saja,
intinya yang rusak. Seperti mesin yang sudah rusak bagian intinya dan tidak
dapat berfungsi lagi dengan baik, sebelum diperbaiki terlebih dulu. Begitu juga
dengan masalah pada pikiran kita, setidaknya akan ada perasaan gak nyaman saat
mengalaminya. Tapi, lagi-lagi, sialnya, kita sudah terbiasa merasa bahwa itu
bukan masalah. Sedangkan menganggap pikiran kita baik-baik saja, dan enggan
mengakui masalahnya, justru akan membuat kita mengalami gangguan yang lebih
berat lagi.
Kalau dibilang
gila bagaimana? Hmm, just go ahead and tell me. I mean, siapa sih yang gak
gila? Dalam situasi dan kondisi saat ini, pejabat, pengusaha, Ibu Rumah Tangga,
pekerja, bahkan pelajar, siapa sih yang gak punya masalah? Kalau gak salah,
mereka yang bersikeras mengelak sesuatu, justru cenderung sedang mengalaminya,
bukan?
Lalu, step awal
seseorang untuk bisa keluar dari masalah bagaimana? Nah ini. yang sering
terjadi. Semua orang senang mencari solusi, hanya ribut soal bagaimana
menyelesaikan masalah, dll. Tapi, enggan untuk mengakuinya lebih dulu. Padahal,
dengan mengakui perasaan bahwa kita mengalami masalah tersebut, dan berkata “oh
ok, its fine. Lets do this”, akan membuat kita menjadi jauh lebih tenang. Dari
situ kita berangkat. Oh iya, sebanyak mungkin hindari bilang “all good”, karena
terkesan mengelak. Cukup sadari, akui, dan kemudian cari solusi. Karena kalau
bukan kita yang menerima diri kita sendiri, ya terus siapa lagi kan? Uuh, Well
said!
Kalau menyebutnya
masalah mental masih terkesan agak menakutkan, hmm kira-kira sederhanya begini
sih, let me ask questions: setiap orang punya pikiran? Tentu. Setiap yang punya
pikiran, pasti berpikir? Tentu. Dalam aktivitas berpikir, kadang kita tersesat?
Ya. Dan, ilmu tentang kesehatan mental ini akan membantu kita menemukan jalan
yang tepat saat kita mengalaminya. Just simple as that. Walaupun gak
se-sederhana itu ya prosesnya. So, Jadi terlihat menakutkan kah? Apa harus
disebut orang gila, stress, atau gak waras?
Intinya, dalam
memperingati hari mental sedunia ini, mari kita renungkan bersama pada diri
kita masing-masing, bahwa kesehatan mental, sama pentingnya dengan kesehatan
tubuh kita. Menjaga mental, artinya menjaga tubuh kita. Do not ignore, Mental Health
Matters.

Komentar
Posting Komentar