Langsung ke konten utama

Seolah “Mental” itu Tabu: “Do Not Ignore, Mental Health Matters”

 

source image: Indonesiana.id


Sudah saatnya kata “mental” tidak menjadi hal yang mengerikan. Sudah saatnya tidak tabu untuk kita  membicarakannya.

World Mental Health yang selama ini kita peringati, tentu bukan hanya sekedar peringatan tanpa arti. Peringatan tersebut, sejatinya membawa sebuah pesan kepada kita untuk menyadari  betapa pentingnya kesehatan mental. Apalagi pada zaman sekarang ini, dimana kita semua agaknya punya “kegilaannya” sendiri-sendiri. Seperti halnya setiap orang pernah jatuh sakit (pada tubuhnya), pernah demam, flu, bahkan penyakit yang berat seperti typhus, DBD, cacar, dan berbagai penyakut tubuh lainnya. Kita semua pun mungkin juga pernah atau bahkan sedang mengalami masalah pada otak kita. Maksudnya, pada pikiran (mental) kita.

Namun, sialnya, masalah pada pikiran (mental), seringkali mendapati respon yang kurang bagus untuk dibicarakan. Jangankan untuk dibicarakan, diakui saja enggan. Mereka yang bicara mengenai kesehatan mentalnya, mengakuinya, kemudian akan dianggap “gila”, “stress”, dan “gak waras”. Orang-orang akan bebas untuk mengatakan “gue dari rumah sakit, operasi ginjal”, dll, tapi jika kita bercerita kalau kita sedang menjalani terapi kesehatan mental? Di saat kita mengeluh sakit perut, pusing, keluarga kita akan langsung membawa kita ke dokter. Tapi, beda lagi ceritanya kalau yang bermasalah itu pikiran (mental) kita, apa yang terjadi? Seluruh keluarga akan diam, ssshh.. tutup mulutmu (shut up!). Padahal, otak yang merupakan sumber dari pikiran ini juga termasuk bagian dari tubuh, bukan?

Let me tell you that I’m not the only one who surprised, right?

Tentu gak semua orang. Saya yakin masih banyak mereka yang peduli sama kesehatan mentalnya. But now, saya pingin fokus buat yang masih tabu ngomongin masalah mental. Disclaimer, saya bukan ahli psikologi atau pakar kesehatan mental, saya hanya sedang belajar, dan saya rasa semua orang memang sudah seharusnya melek akan issue ini. Tentu saja karena menjaga kesehatan mental sama pentingnya seperti menjaga kesehatan tubuh kita, bahkan, lebih penting.

Pikiran (mental) adalah inti dari tubuh, atau lebih tepatnya ‘diri’ kita. Sebagaimana yang kita tahu, otak yang memiliki peran untuk mengatur dan mengkoordinir gerakan seluruh sistem dan pikiran kita, merupakan bagian terpenting. Dan, ketika bagian terpenting dari tubuh ini kemudian mengalami gangguan atau masalah, sekecil apapun itu, akan mengganggu sistem kerja yang lainnya, bukan? Bayangkan saja, intinya yang rusak. Seperti mesin yang sudah rusak bagian intinya dan tidak dapat berfungsi lagi dengan baik, sebelum diperbaiki terlebih dulu. Begitu juga dengan masalah pada pikiran kita, setidaknya akan ada perasaan gak nyaman saat mengalaminya. Tapi, lagi-lagi, sialnya, kita sudah terbiasa merasa bahwa itu bukan masalah. Sedangkan menganggap pikiran kita baik-baik saja, dan enggan mengakui masalahnya, justru akan membuat kita mengalami gangguan yang lebih berat lagi.

Kalau dibilang gila bagaimana? Hmm, just go ahead and tell me. I mean, siapa sih yang gak gila? Dalam situasi dan kondisi saat ini, pejabat, pengusaha, Ibu Rumah Tangga, pekerja, bahkan pelajar, siapa sih yang gak punya masalah? Kalau gak salah, mereka yang bersikeras mengelak sesuatu, justru cenderung sedang mengalaminya, bukan?

Lalu, step awal seseorang untuk bisa keluar dari masalah bagaimana? Nah ini. yang sering terjadi. Semua orang senang mencari solusi, hanya ribut soal bagaimana menyelesaikan masalah, dll. Tapi, enggan untuk mengakuinya lebih dulu. Padahal, dengan mengakui perasaan bahwa kita mengalami masalah tersebut, dan berkata “oh ok, its fine. Lets do this”, akan membuat kita menjadi jauh lebih tenang. Dari situ kita berangkat. Oh iya, sebanyak mungkin hindari bilang “all good”, karena terkesan mengelak. Cukup sadari, akui, dan kemudian cari solusi. Karena kalau bukan kita yang menerima diri kita sendiri, ya terus siapa lagi kan? Uuh, Well said!

Kalau menyebutnya masalah mental masih terkesan agak menakutkan, hmm kira-kira sederhanya begini sih, let me ask questions: setiap orang punya pikiran? Tentu. Setiap yang punya pikiran, pasti berpikir? Tentu. Dalam aktivitas berpikir, kadang kita tersesat? Ya. Dan, ilmu tentang kesehatan mental ini akan membantu kita menemukan jalan yang tepat saat kita mengalaminya. Just simple as that. Walaupun gak se-sederhana itu ya prosesnya. So, Jadi terlihat menakutkan kah? Apa harus disebut orang gila, stress, atau gak waras?

Intinya, dalam memperingati hari mental sedunia ini, mari kita renungkan bersama pada diri kita masing-masing, bahwa kesehatan mental, sama pentingnya dengan kesehatan tubuh kita. Menjaga mental, artinya menjaga tubuh kita. Do not ignore, Mental Health Matters.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengikat Makna: Pelajaran dari Seorang Guru

Mengikat Makna Tribute to:  Bapak Hernowo (Dosen, penulis buku dan tokoh yang menginspirasi saya) "Menulis adalah Tugas dan Kewajiban Kita Sebagai Manusia jika ingin Memahami Makna Hidup" Dulu, saat kuliah, saya beruntung bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim, seorang dosen yang luar biasa dan dikenal sebagai “Man of Letter”. Beliau penulis buku “Mengikat Makna” dan beberapa buku best seller lainnya. Saya sendiri, jujur saja, tidak pernah merasa bisa menulis. Bahkan sampai sekarang, saya masih ragu.   Menjadi penulis?   Tidak pernah terlintas di pikiran saya. Namun, suatu hari, Bapak Hernowo memberikan saya sebuah hadiah yang mengubah pandangan saya.   Beliau memberikan buku miliknya kepada saya. Buku tersebut adalah karya yang ditulis olehnya. Ini terjadi setelah beliau meminta kami untuk menulis esai tentang materi perkuliahannya dan mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, di pertemuan berikutnya, Bapak Hernowo menyebutkan nama saya saat mengumumka...

Bagaimana Cara Agar Kita Bisa Menerima Kesedihan dalam Hidup, dan Bukan Hanya Kesenangan?

  www.istockphoto.com Seperti koin yang punya dua sisi, hidup pun demikian. Adakalanya kita akan menemukan kesenangan, dan adakalanya kita bertemu dengan kesedihan atau kesulitan. Semua manusia mengalaminya, tanpa terkecuali. Hanya saja, mungkin bentuk dari kesenangan dan kesulitan masing-masing individu tentu berbeda, dilihat dari berbagai aspek kehidupan dan pribadi setiap orang. Manusia sering lupa, bahwa sama halnya tidak ada kesenangan yang abadi, maka tidak ada juga penderitaan yang abadi. Sama seperti kita menerima kesenangan dengan tangan terbuka, maka seharusnya begitu juga ketika kita menerima kesedihan. Jika kita bisa menyambut kesenangan, mengapa kita tidak bisa menghargai kesulitan yang ada di hadapan kita? Saya jadi teringat kata-kata bijak   yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer: “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” -Pramoedya Ananta...

Memahami Makna Hidup Bahagia

  www.sonora.id Kita semua bisa mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hal yang diinginkan semua orang. Dalai Lama menyebutnya sebagai tujuan hidup manusia. Manusia hidup, ya untuk bahagia. Tentu saja tidak ada orang yang tidak ingin hidup bahagia. Lalu, berbagai cara pun akhirnya kita lakukan untuk meraih kebahagiaan. Namun, pernahkan kita bertanya-tanya, terkait makna kebahagiaan itu sendiri? Apakah sebenarnya   yang dimaksud dengan kebahagiaan? Menurut sebagian orang, kebahagiaan bersifat subjektif. Oleh karena itu, pemaknaannya bagi setiap orang mungkin saja berbeda-beda. Katakanlah kebahagiaan yang dimaksud oleh anak-anak berusia tujuh tahun tentu berbeda dengan kebahagiaan menurut mereka yang sudah beranjak dewasa. Kebahagiaan seseorang yang memiliki kepribadian introvert dengan ekstrovert pun biasanya berbeda. Dan   lain sebagainya. Sedangkan kebahagiaan yang sifatnya objektif, seringkali diukur dengan beberapa acuan yang berupa aturan tertentu. Misalnya tidak sak...