Langsung ke konten utama

Kalau Dipikir-pikir, Mengapa Kita Terlalu Memikirkan Tentang Pujian dan Hinaan, Ya?

 

www.islam.nu.or.id



Pernahkan kita menyadari bahwa anggapan orang lain itu sebenarnya seperti angin sepoi-sepoi? Artinya, ia  tidak akan bertahan lama. Baik itu pujian, atau hinaan. Hari ini mungkin kita dipuji oleh orang lain, tapi besoknya, bisa jadi mereka menghina kita. Begitu juga sebaliknya, ada orang yang tadinya membenci dan menghina kita, lalu suatu hari tiba-tiba saja ia memberi pujian. Aneh, tapi nyata. Begitulah manusia.

Hal tersebut bisa dilihat dari kehidupan para artis atau selebriti yang memang seringkali menjadi konsumsi publik. Bukan hal yang aneh lagi jika kita mendengar bahwa si fulan mendapatkan hinaan, padahal sebelumnya ia dipuja bagai dewa oleh masyarakat atau netizen. Baik di dunia nyata, maupun di social media. Ada juga mereka yang tiba-tiba disanjung dan diangkat derajatnya, usai mengatakan atau melakukan suatu hal, padahal sebelumnya ia dikecam dan dimaki-maki. Ya sudahlah ya, intinya mereka juga manusia.

Dari kecil, saya sering sekali mendengar keluarga saya mengatakan bahwa saya berbeda dari saudara saya yang lain. Mendengar mereka mengatakan bahwa saya anak pungut, anak nemu, dll sudah seperti rutinitas sehari-hari. Tentu saja saya tahu kalau itu hanya bercanda. Tapi lama kelamaan, lelucon itu jadi tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Malah yang ada bikin geram mendengarnya.

Perasaan itu semakin buruk saat saya sering ikut main bersama saudara saya yang lain. Lalu teman mereka dengan wajah heran bertanya-tanya, ini siapa? Adik kamu? Anehnya, tidak kepada kakak yang kedua, ya karena mereka mirip. Huft.. Rasanya pingin menghilang saat itu juga. Beberapa orang baru juga selalu melakukan hal yang sama setiap bertemu dengan kita. Ketika melihat saya, mulut mereka otomatis berkata “kalau ini agak lain ya, tidak begitu arab mukanya”, bla bla bla. 

Ya maklum, kakak-kakak saya memang terbilang arab sekali wajahnya, sedangkan saya tidak. Memangnya kenapa sih kalau berbeda? Saudara tidak harus mirip, kan? Atau bilang saja kalau saya tidak se-cantik mereka. Dari situ, saya pun memutuskan untuk tidak ikut lagi kemanapun mereka pergi. Entah saya yang terlalu baper, atau orang-orang itu memang keterlaluan. Intinya, berhubung kata-kata menjengkelkan itu sudah terlalu banyak, saya sudah cukup kesal.

Kisah lain, ada seorang teman saya yang memiliki banyak jerawat di wajahnya. Pada awalnya, ia baik-baik saja dengan keadaan itu. Memang sedang puber kan? pikirnya. Mau bagaimana lagi? Toh kebanyakan orang juga mengalami, nanti juga pulih sendiri. Begitu tenang dan cuek dia. Tapi, seiring berjalannya waktu, responnya pun berubah ketika ia mendapatkan begitu banyak kritik bahkan hinaan. Ya, hinaan yang dibalut kritikan kan banyak. Bilangnya kasih masukan, padahal ya jatohnya menghina.

Mendapati banyaknya body shaming, teman saya itu sudah tidak kuat lagi. Ia pun akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi menghilangkan jerawat di wajahnya. Yap, sampai sejauh itu, hanya karena omongan orang. Okey, ternyata pribahasa yang mengatakan bahwa lidah lebih tajam daripada pedang ternyata benar adanya. Ia juga bisa lebih bahaya. Pedang akan membuat seseorang mati sekali. Tapi lidah yang tidak dijaga, membunuh seseorang berkali-kali. Tidak terlihat karena tidak membuat seseorang berdarah-darah pada fisiknya, namun batinnya.

Sebenarnya, kita tidak harus selalu mendengar apa kata orang. Jika kita cukup menerima keadaan kita, sehararusnya omongan orang, apapun bentuknya, tidak perlu sampai mengganggu kita. Agak basi ya mendengarnya. Tapi serius, kalimat itu harus tertanam dalam diri dan pikiran kita. Mengapa? agar hidup kita tidak selalu bergantung pada pendapat orang lain.

Epictetus dalam bukunya Enchiridion, menjelaskan bahwa butuh dua pihak untuk merasa terhina. Yakni orang yang menghina, dan yang dihina. Ia mengatakan:

“Ingat, untuk bisa benar-benar menyakitimu, tidak cukup dengan hinaan saja. kamu harus percaya bahwa kamu sedang disakiti. Jika seseorang sukses membuat kamu terprovokasi, sadarilah bahwa pikiranmu pun turut berperan dalam provokasi ini. Itulah pentingnya untuk kita tidak memberi respons secara impulsif. Berikan waktu sebelum bereaksi, maka akan lebih mudah bagi kamu memegang kendali (atas dirimu sendiri)”.

Sama halnya dengan pujian. Ada kalanya seseorang melakukan segala sesuatu agar mendapatkan pujian. Pertanyaannya, untuk apa? Padahal rasa senangnya hanya sesaat.

Sebenarnya, apa yang sebetulnya menjadi dasar atau awal mula orang-orang melakukan kegiatan memuji atau menghina? Memuji seseorang tentu tindakan yang baik dan terpuji, tetapi terkadang kini orang-orang memakainya dengan berlebihan, sedangkan segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, bukan? Tidak jarang juga itu dilakukan demi berbagai kepentingan tertentu alias pujian itu palsu. 

Lagipula, sesuatu yang dipuji tidak kemudian membuatnya menjadi lebih baik. Jika sesuatu memang benar-benar indah, maka ia tidak perlu dan tidak butuh apapun di luar dirinya. Bunga, langit, dan keindahan apapun yang berharga tidak mendapatkan keindahannya dari sebuah pujian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengikat Makna: Pelajaran dari Seorang Guru

Mengikat Makna Tribute to:  Bapak Hernowo (Dosen, penulis buku dan tokoh yang menginspirasi saya) "Menulis adalah Tugas dan Kewajiban Kita Sebagai Manusia jika ingin Memahami Makna Hidup" Dulu, saat kuliah, saya beruntung bertemu dengan Bapak Hernowo Hasim, seorang dosen yang luar biasa dan dikenal sebagai “Man of Letter”. Beliau penulis buku “Mengikat Makna” dan beberapa buku best seller lainnya. Saya sendiri, jujur saja, tidak pernah merasa bisa menulis. Bahkan sampai sekarang, saya masih ragu.   Menjadi penulis?   Tidak pernah terlintas di pikiran saya. Namun, suatu hari, Bapak Hernowo memberikan saya sebuah hadiah yang mengubah pandangan saya.   Beliau memberikan buku miliknya kepada saya. Buku tersebut adalah karya yang ditulis olehnya. Ini terjadi setelah beliau meminta kami untuk menulis esai tentang materi perkuliahannya dan mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, di pertemuan berikutnya, Bapak Hernowo menyebutkan nama saya saat mengumumka...

Bagaimana Cara Agar Kita Bisa Menerima Kesedihan dalam Hidup, dan Bukan Hanya Kesenangan?

  www.istockphoto.com Seperti koin yang punya dua sisi, hidup pun demikian. Adakalanya kita akan menemukan kesenangan, dan adakalanya kita bertemu dengan kesedihan atau kesulitan. Semua manusia mengalaminya, tanpa terkecuali. Hanya saja, mungkin bentuk dari kesenangan dan kesulitan masing-masing individu tentu berbeda, dilihat dari berbagai aspek kehidupan dan pribadi setiap orang. Manusia sering lupa, bahwa sama halnya tidak ada kesenangan yang abadi, maka tidak ada juga penderitaan yang abadi. Sama seperti kita menerima kesenangan dengan tangan terbuka, maka seharusnya begitu juga ketika kita menerima kesedihan. Jika kita bisa menyambut kesenangan, mengapa kita tidak bisa menghargai kesulitan yang ada di hadapan kita? Saya jadi teringat kata-kata bijak   yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer: “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” -Pramoedya Ananta...

Memahami Makna Hidup Bahagia

  www.sonora.id Kita semua bisa mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hal yang diinginkan semua orang. Dalai Lama menyebutnya sebagai tujuan hidup manusia. Manusia hidup, ya untuk bahagia. Tentu saja tidak ada orang yang tidak ingin hidup bahagia. Lalu, berbagai cara pun akhirnya kita lakukan untuk meraih kebahagiaan. Namun, pernahkan kita bertanya-tanya, terkait makna kebahagiaan itu sendiri? Apakah sebenarnya   yang dimaksud dengan kebahagiaan? Menurut sebagian orang, kebahagiaan bersifat subjektif. Oleh karena itu, pemaknaannya bagi setiap orang mungkin saja berbeda-beda. Katakanlah kebahagiaan yang dimaksud oleh anak-anak berusia tujuh tahun tentu berbeda dengan kebahagiaan menurut mereka yang sudah beranjak dewasa. Kebahagiaan seseorang yang memiliki kepribadian introvert dengan ekstrovert pun biasanya berbeda. Dan   lain sebagainya. Sedangkan kebahagiaan yang sifatnya objektif, seringkali diukur dengan beberapa acuan yang berupa aturan tertentu. Misalnya tidak sak...