![]() |
| www.mubadalah.id |
“Selamat Maulid Nabi Muhammad
SAW. Selamat atas kelahiran manusia mulia.”
Ciri
khas bulan ini sangat lekat di memori kami. Tidak diragukan lagi, setiap bulan
maulid tiba, akan ada banyak peringatan dan undangan untuk hadir dari banyak
orang. Sehari bisa sampai tiga bahkan lebih acara yang kami datangi. Munajat,
shalawat, serta doa dari berbagai tempat pun seringkali terdengar dimana-mana.
Seakan
orang-orang kian berebut menggelar acara dan mengambil berkah dari bulan
lahirnya manusia mulia ini. Bahkan, tidak hanya pas di bulan maulid, tapi juga
bulan sebelum dan sesudahnya pun seringkali ramai semarak acara tersebut.
Karena pada dasarnya, hari bahagia atas lahirnya Nabi Muhammad bukan saja
ditujukan bagi kaum umat Islam, melainkan bagi seluruh umat manusia. Dalam
Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 107, Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا
رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus Kamu,
melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”.
Jika kita ingat sejarah dimana
Nabi Muhammad dilahirkan, pada saat itu tengah terjadi kebodohan akhlak
dimana-mana, masyarakat arab dengan perilakunya yang menjunjung tinggi
kesukuan, serta berbagai kekacauan lainnya. Mengetahui hal tersebut, rasanya Ia
tidak akan diutus selain untuk mengubah akhlak manusia, dan menjadi rahmat bagi
semesta alam. Sebagaimana ajaran yang dibawanya yakni Islam, yang menjadi
rahmatan lil ‘alamin.
Oleh
sebab itu, kelahiran Nabi Muhammad yang merupakan simbol keselamatan, adalah
bahagia yang seharusnya bisa dirasakan oleh seluruh manusia, dan juga semua
makhluk ciptaan-Nya. Merayakan peristiwa ini dengan acara yang ramai dan meriah
juga tentu dibolehkan demi mengingat pesan di dalamnya. Yap, pesan bagaimana
manusia mulia ini lahir, makna, serta pelajaran penting yang ia bawa ke dunia.
Selain tidak berhenti dan stag dengan perayaannya saja, tentu akan sangat
bermakna jika kita juga meresapi hakikat yang ada. Jika tidak, maka semua hanya
akan menjadi seremonial semata.
Walaupun
di samping itu, ada sebagian dari kita yang mempermasalahkan jika mereka yang
non-muslim ikut memperingati maulid Nabi Muhammad. Juga sebaliknya, jika ada
muslim yang berbahagia dengan peringatan mereka yang non-muslim. Padahal, hal
tersebut sangat wajar bukan? Jika kita umat Islam berbahagia dengan kelahiran
Nabi Muhammad SAW, maka sama halnya juga mereka, umat kristen, yang berbahagia
dengan kelahiran Isa al-Masih.
Peristiwa
tersebut, dan juga berbagai peristiwa agama yang lain, saya yakin semua pasti
mengandung pesan kebaikan di dalamnya. Sehingga tidak ada salahnya apabila kita
ikut merasakan dan juga berbahagia bersama dalam memperingati suatu peristiwa
yang dianggap penting oleh kita yang berbeda, dan tentu saja, kita semua yang
sama.
Berbicara
tentang rahmat Nabi Muhammad SAW, kita seringkali mendengar kisah bagaimana
Nabi bersikap baik kepada sesama. Bukan hanya sesama umatnya, namun juga semua
manusia. Toleransi merupakan pelajaran yang tidak luput dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW. Tujuan Nabi memang menyampaikan ajaran yang diamanahkan padanya.
Akan tetapi, Nabi tidak pernah memaksa dan menghormati kehendak setiap orang.
Bahkan,
seorang paman yang sangat dekat dengan Nabi yakni Abi Thalib pun tidak
dipaksanya untuk masuk Islam. Dari sana, kita tahu bahwa Nabi sedang
mengajarkan arti toleransi. Nabi seakan memberi sebuah pesan bahwa Islam, agama
yang dibawanya, adalah agama yang sangat menghargai perbedaan. Daripada memaksa
seseorang mengikuti jalan kita, meski dengan alasan demi kebaikan, menghargai
keputusannya sendiri ternyata justru lebih manusiawi. Toh mereka juga sudah
meyakini bahwa keimanannya itu yang baik bagi mereka.
Kita
juga pasti sangat familiar dengan kisah dimana Nabi sedang duduk bersama
sahabatnya, kemudian lewat seorang yahudi yang tengah membawa orang meninggal.
Nabi pun berdiri sebagai tanda penghormatan, dan saat ditanya oleh sahabatnya,
yang menganggap hal tersebut tidak perlu dilakukan lantaran ia merupakan orang
Yahudi, Nabi pun menjawab, “setidaknya kita adalah sesama manusia.”
Hmm,
berbeda bukan berarti tidak bisa saling menghargai bukan? Justru dengan
menyadari keberagaman sebagai hal yang niscaya, seharusnya kita tahu bahwa
hidup berdamai bertoleransi dengan mereka yang berbeda adalah panggilan-Nya.
Jadi kita ini umat siapa? Jika masih saja suka menghakimi mereka yang berbeda
dengan kita.
Memang
benar bahwa dalam toleransi juga ada batasan. Tapi batasan itu saya yakin bukan
untuk mempelajari, berbahagia, dan berjalan beriringan antar sesama, meski
berbeda. Ini sudah diajarkan oleh Nabi kita sejak lama, dan tidak heran bahwa
pesonanya mampu mengikat semua orang, meski tidak mengikuti jejaknya.
Oleh
karena itu, banyak dari mereka yang non-muslim, mengagumi bahkan memperingati
kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kemuliaannya bisa dirasakan oleh setiap insan, dan
kebaikan, jika bisa berwujud, ia akan berupa Muhammad. Selamat bergembira,
semoga damai menyelimuti kita.

Komentar
Posting Komentar